Tips Mencegah Penyalahgunaan Narkoba Semenjak Usia Dini

0
274

Eko Sumartono
Penyuluh Ahli Pertama BNNP Kepulauan Bangka Belitung

Permasalahan penyalahgunaan narkoba dewasa ini semakin memprihatinkan, tidak hanya orang dewasa tetapi juga anak-anak sudah mulai menyalahgunakan narkoba. Penyalahgunaan lem aibon, penggunaan obat-obatan tidak sesuai petunjuk dokter, penggunaan jenis narkoba lainnya merupakan hal yang mulai dikenal kalangan anak-anak dan remaja kita semata-mata karena rasa ingin tahu dan keinginan untuk diakui kelompok dan temannya.
Hal ini perlu disikapi bersama untuk kemudian segenap komponen mencari jalan keluar atas permasalahan ini. Pendekatan represif tidak semata-mata dapat menyelesaikan permasalahan penyalahgunaan narkoba, perlu adanya pendekatan preventif dan kuratif untuk menangani permasalahan ini baik di Indonesia maupun di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kondisi itu telah disadari oleh banyak pihak dari beragam profesi, dan mulai meneliti pola-pola yang dapat diterapkan untuk upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. United Nation Office on Drugs and Crime (UNODC) sebuah lembaga PBB yang fokus menangani masalah Narkoba di dunia, mengumpulkan 80 ilmuwan dari 35 negara yang meneliti pola pencegahan selama bertahun-tahun.
Dari hasil penelitian mereka, disimpulkan bahwa sebaik-baiknya pencegahan penyalahgunaan narkoba yang dilakukan secara terus menerus dimulai dari masa prenatal (kehamilan) hingga remaja. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa keluarga memegang peran penting dalam tumbuh kembang anak, pola asuh yang baik, komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak dan melibatkan orang-orang terdekat termasuk peran sekolah dan pengawasan atas pergaulan teman sebaya.
Upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba tidak selalu berhubungan dengan pengenalan bentuk, jenis dan dampak narkoba saja karena penelitian UNODC menemukan bahwa korelasi antara meningkatnya pengetahuan akan dampak narkoba tidak berbanding lurus dengan kemauan atau ketahanan dirinya untuk menolak narkoba. Pengaruh terbesar dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Pengaruh mikro (keluarga, lingkungan sekolah dan teman sebaya)
2. Pengaruh makro (pendapatan dan sumber daya, lingkungan sosial dan fisik)
3. Pengaruh karakter pribadi (kesehatan mental, perkembangan syaraf, penanganan terhadap stres)
Ketiga hal tersebut sangat mempengaruhi apakah seseorang akan menyalahgunakan narkoba atau tidak. Pola pencegahan harus dilakukan secara terintegrasi di lima lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, komunitas, lingkungan kerja dan dukungan sektor kesehatan. Kelima lingkungan akan efektif bila lingkungan pertama dalam tumbuh kembang anak, yaitu keluarga memiliki kualitas yang baik dalam mendidik anak.
Karena itu, sangat penting untuk setiap pasangan muda dan orang tua yang memiliki anak usia dini mempelajari cara-cara pola asuh yang baik. Bagaimana Mendidik anak yang baik?
Beberapa tips berikut ini dapat diterapkan dalam mendidik anak agar bermental sehat dan jauh dari perilaku negatif, salah satunya adalah meluangkan waktu yang berkualitas bersama anak. Berbagai jurnal ilmiah, seperti Journal of the American Medical Assosiation, Journal Child Development, dan beberapa jurnal ilmiah lainnya mengatakan hal yang sama.
Anak‚Äďanak yang punya waktu berkualitas dengan orang tuanya akan tumbuh menjadi pribadi yang berwawasan luas, memiliki percaya diri, memiliki rasa empati, dan lebih tahan terhadap godaan, seperti narkoba dan lainnya.
Lalu bagaimana caranya menciptakan waktu yang berkualitas dengan anak? Pertanyaan ini tentu mengemuka di pikiran kita karena tidak ada orang tua yang ingin anaknya tumbuh dalam lingkungan yang buruk tanpa kasih sayang. Tetapi, kadang kita lupa bahwa waktu berkualitas bagi anak berbeda dengan waktu berkualitas untuk orang tua, keduanya memiliki kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, kita harus paham kebutuhan anak dan bagaimana cara menyampaikannya agar tidak terjadi salah paham. Berikut tipsnya:
1. Bercakap-cakap atau menceritakan dongeng bagi anak.
Berbicara dengan anak merupakan hal yang sangat penting bahkan semenjak masa kehamilan dan bayi, dengan bicara kita membuat anak belajar. Teknik berbicara tentu penting diketahui, menggunakan kosakata yang baik, intonasi yang sesuai keadaan dan ketegasan. Dengan bicara kita mengajarkan anak untuk tidak memendam emosi dan menjadi pribadi yang terbuka dan positif.
2. Menjelaskan dengan baik apa yang mereka harus tahu dan ingin ketahui
Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, terutama dalam masa-masa pertumbuhan. Hal ini tentu harus dipahami orang tua, berikan mereka penjelasan yang baik, dan berikan batasan antara yang boleh dan tidak beserta alasannya. Semakin dewasa anak maka pendekatan harus disesuaikan dengan kondisinya. Jangan perlakukan mereka dengan manja atau terlalu keras, sesuaikan keadaan agar anak mengerti kondisi yang dirasakan oleh orang tua.
3. Tawarkan pilihan, jauhi perintah
Berikan mereka pilihan-pilihan bila kita menghendaki mereka melakukan sesuatu, dibandingkan dengan hanya memerintah mereka. Tumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri mereka, diawali dengan hal-hal yang berhubungan dengan mereka lalu secara bertahap ajak mereka untuk merasa bertanggungjawab atas hal-hal lain di rumah sehingga anak mengerti dan mau bertanggung jawab.
4. Awasi mereka dengan tetap menghargai privasi mereka
Sebagai orang tua, kita harus mengetahui kondisi pergaulan anak, dengan siapa, apa yang dilakukan dan bagaimana perasaan mereka atas teman-teman mereka. Tetapi anak bukanlah benda mati, mereka memiliki perasaan, karena itu ada privasi yang harus kita hargai dan anak mengetahui bahwa tujuan kita mengawasi mereka adalah untuk melindungi. Jangan terlalu mengekang, tetapi berikan mereka kebebasan yang mereka yakin bisa dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA  Momentum HUT Ke- 20 Bangkep Jadi Spirit Memajukan Sektor Pendidikan di Daerah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here