Sosok Kerasnya Luluh di Palangka Raya

0
86

Oleh : Afni Zulkifli
Tenaga Ahli Menteri LHK

Di hadapan jenazah staff yang gugur melaksanakan tugas di Taman Nasional Sebangau, Kalteng, Siti Nurbaya Ibu para rimbawan ini seolah kehabisan air mata. Begitupun rasanya saya, dan hampir seluruh kekuatan penuh jajaran eselon I dan II Manggala yang diboyongnya untuk menunjukkan ini duka bersama.

” Kami keliling dari pagi sampai malam hari. Dari satu jenazah ke jenazah berikutnya di Palangkaraya, Katingan, dan Kapuas,” ujarnya.

Padahal baru saja hitungan jam selesai mendampingi dari Lombok, setelah sebelumnya berturut-turut nyaris non stop agenda di Jogja dan Labuan Bajo.

Di tiga kota terakhir, ia begitu keras, tegas dan lugas. Berapi-api menyemangati jajaran pusat dan daerah untuk tak gentar dan lelah menjaga Negara. Namun di Palangka Raya, sosok itu menunjukkan bahwa ia tetaplah manusia biasa. Tetap seorang Ibu yang terpukul kehilangan anak-anaknya dalam satu waktu seketika.

Mungkin selama mendampinginya lebih 4 tahun terakhir, kunjungan ke Kalteng inilah yang paling kelam dan suram.

BACA JUGA  Pemindahan Ibu Kota : Kaltim Paling Siap Ketimbang Kalteng

Pertama melepas jenazah Tyas Novianti di kantor TNS. Lalu lanjut ke rumah Abdi Darmansyah (35) dan adik iparnya Ibnu Yudistira Hendrawan (27) yang saling bersebelahan di Sebangau.

Istri Abdi sedang hamil 8 bulan dan meninggalkan anak berusia 5 tahun. Kami merasa ikut hancur.

Sedangkan Ibnu, adalah anak muda yang fotonya saat sedang menggotong selang air setelah memadamkan Karhutla, masih terpajang di ruang kerja Menteri LHK. Ibnu adalah Manggala Agni berdedikasi di garis terdepan pemadaman. Kini ia sudah tiada.

Jelang siang, melepas jenazah Mansyah di Masjid Zainul Muttaqin, Katingan. Mansyah adalah korban tewas terakhir yang berhasil ditemukan.

Kemudian lanjut ke Kapuas ke rumah Mutiara, memakan waktu 4 jam lebih PP. Mutiara, gadis manis pegawai TNS itu berpulang saat sedang menyiapkan rencana pernikahan.

Hanya satu yang tidak ditemui, Umroatus Sholikhah, karena langsung dimakamkan di Jawa Tengah. Namun kisahnya lebih tragis. Umroatus tewas ditabrak kapal besar dimana suaminya Agung (Polhut TNS) bertugas menjadi penunjuk jalan.

Agung sendiri tidak tahu, kalau istrinya ada di dalam perahu kecil nahas itu. Ia berjibaku menyelamatkan rekan-rekannya dengan menyelam sesaat begitu kecelakaan, dan baru sadar saat melihat tas milik istrinya mengambang di lokasi kejadian. Apa daya, pasangan hidup tercinta sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

BACA JUGA  Sinergi Program Kampung KB di Daerah Bencana dalam Membangun & Memandirikan Masyarakat

Agung termasuk yang menyelamatkan Yuliansi dan Selfia, dua pegawai TNS yang sempat kritis dan dirawat RS Doris Sylvanus. Hari sudah sangat malam saat Siti Nurbaya menjenguk keduanya, memberi mereka semangat.

Total seharian keliling mengantar 5 jenazah dari 8 korban pegawai TNS KLHK. 6 meninggal di tempat, 2 dalam perawatan.

Kematian itu misteri yang pasti. Hanya tinggal cara dan tempatnya saja. Mereka sudah mendahului, kita hanya mengantri.

Selamat jalan para Rimbawan penjaga Taman Nasional. Husnul khotimah insyaAllah.
_____

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here