Sekilas Arti dari Tugu Nol Kilometer, Ikon Baru Kota Palu

0
891

TUGU NOL KILOMETER, IKON KOTA PALU.(F-ist)
PALU, Sultengmembangun. com – Tugu baru ‘nol kilometer’ yang terbangun megah ditengah Kota Palu tepatnya di bilangan Jalan Sultan Hasanuddin dan Jalan Jenderal Sudirman, memiliki filosofi Sambulu Gana, di puncak tugu diletakkan mutiara besar.

Kata sambulu gana atau dulang pembuka pembicaraan penting dalam ritual adat dalam budaya Kaili. Dimana sambulu gana merupakan bahan utama dalam proses ritual adat di Tanah Kaili yang mempunyai makna yang sangat dalam, sambulu gana terdiri Buah Pinang, Gambir, buah sirih, kapur sirih dan tembakau.

Tugu ini berdiri megah ditengah kota. (F-ist)

FILOSOFI TUGU NOL KILOMETER

Menampilkan filosofi sambulu gana dipandang perlu karena artinya dalam adat kuat sehingga dibandingkan simbol adat di Tanah Kaili, sambulu gana sangat tepat berada di titik nol ini, yang dimaksudkan dimana sebuah tugu yang berada di pusat Kota Palu ini.

Tugu ini memiliki tinggi 17 meter, yang mana angka 17 meter itu sendiri merupakan tanggal Hari Kemerdekaan Indonesia dengan struktur berbentuk dulang yang terbuat dari tembaga, serta dikelilingi kolam berbentuk segitiga mengikuti sirkulasi kendaraan sekitar dan penambahan elemen air untuk menembah kesan sejuk pada area tugu.

BACA JUGA  Pergaulan Bebas: Penyebab, Akibat & Cara Mengatasinya

Bila merinci filosofi yang terdapat dalam tugu nol kilometer ini, ada empat yang perlu diketahui yakni pondasi bawah terdapat dulang raksasa dengan diameter 8 meter, yang merupakan tempat untuk menaruh makanan saat kegiatan adat Kota Palu dan bermakna bahwasanya Kota Palu menyambut masyarakat dari luar kota lain. Kemudian struktur tiang utama yang terdapat 35 besi penghubung mengambil filosofi jumlah provinsi yang ada di Indonesia, merupakan kesatuan Indonesia sebagai tiang utama nusantara tanpa memandang suku, ras dan agama.

Sedangkan puncak tugu nol Kilometer terdapat mutiara yang melambangkan kota yang bercahaya dari ketinggian dan terakhir empat pilar penyangga tiang utama yang filosofinya mewakili UU 1945, Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.
Sementara itu, dibagian bawah tugu tertera tulisan berbahasa Kaili “Masintuvu Kita Maroso” artinya bersama kita kuat dan “Morambanga Kita Marisi” artinya bersama kita kokoh yang dapat dibaca dari arah timur ke barat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here