Sebrangi Sungai, Wanita Pencari Kelapa Nyaris Mati Diterkam Buaya

0
61

Bersyukur masih bisa terselamatkan dari terkaman buaya, wanita paruh baya ini mengalami luka dibagian kaki. (F-ist)

BAUBAU, Sultengmembangun.com – Nasib malang tak dapat dihindari seorang wanita paruh baya, Wa Buabua (58), warga Kelurahan Lokologou, Kecamatan Kokalukuna, yang hidup sebatang kara dengan menumpang dirumah seorang warga.

Wa Buabua setiap harinya menafkahi dirinya dengan mencari kelapa disebrang sungai di Muara Lokologou.

Selasa (03/03/2020), menjelang magrib, Wa Buabua diterkam buaya saat menyeberangi sungai di Muara Lakologou usai mencari kelapa. Akibatnya, Wa Buabua mengalami luka gigitan cukup serius dibagian betis dan paha kanan.

Diceritakan, saat itu, sungai dalam keadaan pasang dan keruh akibat hujan. Karena hari sudah mau gelap, Wa Buabua memaksakan dirinya untuk menyebrang sungai meskipun air pasang setinggi dada dan keruh.

Ketika menyebrang sungai, lanjutnya, Wa Buabua merasakan kakinya digigit sesuatu. Keruhnya air sungai membuat wabua tak bisa melihat jelas sosok yang menerkam kakinya. Namun ia segera tersadar bahwa yang menerkamnya adalah seekor buaya.

BACA JUGA  Potret Bocah Cium Ibu di Dalam Gerobak Bikin Medsos Menangis

Saat berupaya melepaskan diri dari terkaman buaya, sebuah perahu yang dikemudikan seorang warga melintas. Warga tersebut langsung memberikan pertolongan. Wa Buabua pun berhasil melepaskan diri dari gigitan buaya tersebut dan segera dilarikan ke Puskesmas Bungi untuk mendapatkan pengobatan.

“Untung ada yang lewat dan menolong saya. Saya langsung dilarikan ke Puskesmas untuk pengobatan. Betis dan paha saya dijahit dan di obati. Saya tidak tahu pasti berapa jumlah pasti jahitan. Katanya ada sekitar 17 jahitan,” ungkapnya lirih.

Lebih lanjut Wa Buabua mengatakan saat ini dirinya tidak bisa lagi beraktifitas demi mencari sesuap nasi, karena sedang terbaring lemah.

“Saat ini saya hanya mengharapkan uluran tangan dari warga yang datang menjenguk,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Wa Buabua menambahkan dirinya juga tak memiliki kartu identitas sehingga tidak bisa merawat lukanya di Puskesmas.

“Saya mau bayar pakai apa kalau pergi berobat. Saya tidak punya kartu identitas sehingga tidak menerima bantuan kesehatan atau bantuan apapun dari pemerintah,” ucapnya pelan.

BACA JUGA  Hj. Sakinah AlJufri, S.Ag : Oposisi sebagai Penyeimbang Pemerintahan

Wa Buabua berharap ada pihak yang bisa membantunya dalam memperoleh kartu identitas kependudukan sehingga bisa mendapatkan bantuan seperti orang lain.

“Saya ini sebatang kara dan orang miskin. Selama ini saya dapat bantuan hanya zakat fitra dari masjid. Saya berharap ada pihak yang bisa membantu saya untuk mendapatkan kartu identitas agar bisa mendapatkan bantuan seperti orang lain,” tandasnya.(Hkm/dewi/nila)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here