Posting Berita Hoax, Rahman Ijal Jadi Tersangka

0
807

Pemilik akun bernama Rahman Ijal kini mendekam dibalik jeruji besi di Mapolda Sulteng sambil menunggu proses persidangan, hanya karena memposting berita hoax yang sifatnya memprovokasi karena dianggap tidak sesuai fakta yang terjadi di lapangan.(F-nila)

PALU, Sultengmembangun.com – Tim Subdit V Syber Crime Polda Sulteng berhasil menangkap pelaku penyebar berita hoax yang diposting di medsos beberapa waktu lalu yang dalam postingannya menyatakan adanya bentrok antara Tenaga Kerja Asing (TKA) dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Areal PT.IMIP yang ada di Kabupaten Morowali.
AKBP Ahmad Muhaimin, Kasubbid V syber crime Polda Sulteng, mengatakan pemilik akun facebook “Rahman Ijal” yang memposting berita hoax tersebut di media sosial yang diduga mengandung unsur berita bohong (Hoax), kini sudah diamankan oleh pihak Polda Sulteng. “Saat ini tersangka sudah kita amankan,” ujar AKBP Ahmad Muhaimin, saat press release yang dilakukan Senin (25/2/2019). Saat itu AKBP Ahmad Muhaimin didampingi Kompol Sugeng Lestari, Kabubbid Penmas dan kompol Hasmun F.Efendi,SE Kanit Subdit V Dit Resskrimsus Polda Sulteng.
Adapun kronologis kejadiannya, ungkap AKBP Ahmad, pada 25 Januari 2019 anggota Subdit V Siber melakukan patroli Siber dan menemukan adanya postingan dari akun Facebook berisi berita bohong (Hoax) yaitu memuat berita tentang demo tenaga kerja lokal bentrok dengan tenaga kerja Cina diperusahaan Nikel di Kabupaten Morowali. Namun berita yang sebenarnya adalah demo dari pekerja TKI PT.IMIP Morowali yang bentrok dengan Security, menuntut kenaikan upah sejumlah 20 %. “Akan tetapi justru yang beredar dalam media social facebook yang telah diposting oleh beberapa akun setelah diamati yang memuat berita bohong (Hoax) itu akun bernama “Rahman Ijal”.
Dimana, akun tersebut telah memposting berita dan mengunggah Video yang berisi Demo dari TKA China di Morowali yang bentrok dengan TKI Lokal yang diduga telah mengandung unsur berita bohong (Hoax),”ungkapnya.
Atas kejadian tersebut anggota Subdit V Siber lalu membuat laporan Informasi untuk dilakukan tindak lanjut ke tahap penyelidikan dan dibuatkan Laporan Polisi model A untuk dapat dilakukan penyelidikan dan penyidikan kemudian melakukan pemeriksaan terhadap 5 (lima) orang saksi.
Selanjutnya dari hasil koordinasi dan pemeriksaan ahli bahasa dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tengah dan ahli ITE dari Dinas Kominfo Kota Palu, Penyidik melakukan penangkapan terhadap pemilik akun Rahman Ijal yaitu RS alias RI, berdasarkan Surat Perintah Penangkapan nomor SP.Kap/02/II/2019/Ditreskrimsus, pada 7 Februari 2019.
Dari hasil pemeriksaan/penyidikan RS alias RI ditetapkan sebagai Tersangka dan dilakukan penahan. Dan berkas perkara TSK telah dilimpahkan (tahap I) ke JPU kejati Sulteng pada 14 Februari 2019. Dengan
barang bukti yang disita berupa 1 (satu) buah akun facebook atas nama RAHMAN IJAL dengan email rahman.samsul33@gmail.com.
1 (satu) buah Handphone merk Samsung J5 warna putih dengan IMEI 357202070722120 dan 3572030707221128.
1 (satu) buah SIM Card SIMPATI dengan nomor Handphone 081250555288.
4 (empat) buah Video kegiatan demonstrasi buruh pada akun Facebook atas nama Rahman Ijal yang telah disalin dan dipindahkan kedalam CD dengan nama file Rahman-Ijal-fbdown.net, Rahman-Ijal-fbdown.net_2, Rahman-Ijal-fbdown.net_3, Rahman-Ijal-fbdown.net_4.
Selain itu juga diamankan babuk berupa 2 (dua) lembar printout bukti screenshot postingan dari akun RAHMAN IJAL sebelum dan sesudah diubah.
Terkait hal itu, Rahman Ijal dikenakan pelanggaran atas pasal 28 ayat (1) Jo Pasal 45A ayat (1) UU No.19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang berbunyi Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik, dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (Satu Milyar Rupiah)
Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) UU No.19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang berbunyi Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), dipidana paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu liliar rupiah)
Dan atau Pasal 14 ayat (1) UU No.1 Tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana yang berbunyi Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan senjaga menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi tingginya sepuluh tahun.
Pasal 14 ayat (2) UU No.1 Tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana yang berbunyi Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan hukuman penjara setinggitingginya tiga tahun.
Pasal 15 UU No.1 Tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana yang berbunyi Barang siapa menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berkelebihan atau yang tidak lengkap, sedangkan ia mengerti setidak-tidaknya patut dapat menduga, bahwa kabar demikian akan atau mudah dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setingitingginya dua tahun.(nila)

BACA JUGA  239 Pelaku Kejahatan Terungkap !!! Target Operasi Pekat Tinombala Capai 97 Persen

REDAKTUR : NILAWATI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here