Permintaan Kondom di Palu Meningkat

0
303

Tenny. C. Soriton

PALU, Sultengmembangun. com – Dalam beberapa bulan terakhir, pasca becana di Palu, Kondisi kehidupan masyarakat penyintas bencana yang tinggal di lokasi pengungsian menuai banyak dilema. Sebagaimana direles pihak Komnas HAM Sulteng yang menyebutkan bahwasanya di palu telah terjadi peningkatan kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak. Sehingga inilah yang menjadi alasan kenapa Kota Palu yang dulunya berjulukan kota ramah anak, kini julukan itu dicabut.

Terkait dengan hal itu, Dari pihak BKKBN juga merilis bahwasanya dalam beberapa bulan ini, juga terjadi peningkatan terhadap permintaan alat kontrasepsi (kondom).
Dari keterangan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulteng, Tenny. C. Soriton, yang ditemui di ruang kerjanya, Jumat (5/4/2019), mengakui hal itu.

“Khusus untuk kondom, di Kota Palu ini permintaannya meningkat dibanding alat kontrasepsi lainnya,” ungkap Tenny.

Sementara yang diketahui bahwa pemanfaatan kondom sebagai alat kesehatan yang paling efektif untuk mencegah penularan HIV dan IMS menghadapi tantangan kompleks. Kebijakan pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan sepertinya belum berjalan secara optimal, kata Tenny.

BACA JUGA  Merasa Termarjinalkan, Masyarakat Bulagi Minta Anggota Dewan Perjuangkan Aspirasi Rakyat

Dalam kerangka pendekatan siklus kehidupan intervensi pencegahan penularan dengan menggunakan kondom merupakan bagian tidak terpisahkan dari peran dual function (fungsi ganda) kondom sebagai alat kontrasepsi dan alat pencegahan penyakit melalui transmisi seksual.
Artinya, kebijakan penggunaan kondom yang menjadi domain BKKBN, sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk melaksanakan pengendalian kependudukan, sekaligus secara strategis berperan melakukan pencegahan terhadap penyakit menular.

Dalam praktik, kataTenny, secara dominan di Indonesia termasuk di Sulteng masih memprioritaskan penggunaan kondom sebagai alat kontrasepsi.

Hal inilah yang perlu dipahami bahwasanya pemahaman kondom sebagai alat kontrasepsi oleh BKKBN masih dalam konteks untuk alat kontrasepsi yang didistribusikan melalui Puskemas, dan Dinas Kesehatan.

Sementara kondom sebagai alat pencegahan penyakit HIV dan AIDS menjadi konsern pada aktifis pegiat AIDS dan LSM yang berperan dalam implementasi pemanfaatan kondom sebagai alat pencegahan HIV dan AIDS.

“Jadi memang dilema bagi kami dengan melihat adanya peningkatan permintaan terhadap alat kontrasepsi (kondom), yang kemudian dikaitkan dengan adanya peningkatan kasus pelecehan seksual di sejumlah tempat pengungsian khususnya yang ada di palu, ” kata Tenny berharap semoga dalam pemanfaatannya kondom ini tidak disalah gunakan oleh pihak-pihak tertentu. (cr)
REDAKTUR : NILA

BACA JUGA  Tingkatkan Kompetensi Penyuluh dalam Mencegah Stunting dan Pernikahan Dini di Desa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here