Peran Serta Forum Warga Korban Likuifaksi di Petobo dalam Perumusan RTRW

0
219

Suasana saat rapat yang dilakukan oleh forum warga korban likuifaksi petobo.(foto:ist)
PALU – Hasil rapat yang dilakukan oleh Forum Warga Korban Likuifaksi Petobo, Kota Palu, pada Rabu kemarin (5/12/2018), yang intinya mengharapkan partisipasi masyarakat Petobo (secara khusus) dalam perumusan RT RW (Rencana Tata Ruang & Wilayah) Kelurahan Petobo pasca Likuifaksi 28 September 2018.
Rapat/diskusi yang diselenggarakan ini bertajuk “Menuju Petobo (Baru) yg Sadar Bencana, Kuat & Tangguh”.
Dalam rapat tersebut mengundang Ketua Ekspedisi Palu-Koro, Tri Nirmala Ningrum, Wakil Ketua IAGI Pusat (Ikatan Ahli Geologi Indonesia)Burhan dan Akademisi Untad, Subhan.
Diberitakan sebelumnya, FORUM ini dibentuk masyarakat pada 09 Nopember 2018 di Camp Pengungsian Petobo Atas, arah timur Desa Ngata Baru Kabupaten Sigi.
Forum Diskusi diawali oleh uraian Yahdi Basma selaku pemantik diskusi. Anggota DPRD Provinsi yang juga Ketua FORUM WARGA PETOBO ini menyampaikan tentang target diskusi yakni
Diketahui, Camp Pengungsian dimaksud, kini dihuni lebih dari 4.000 Jiwa Warga Kelurahan Petobo yang selamat dari gulungan lumpur pembuburan tanah (likuifaksi).
Diskusi Terfokus dipandu oleh Umar Pantorano Rantebadja, aktivis Pemuda di Petobo yang juga Wakil Ketua FORUM.
Dalam uraiannya, Tri Nirmala Ningrum menguraikan secara ringkas rangkaian kinerja Tim Ekspedisi Palu-Koro yg sejak 2012 telah memulai berbagai risetnya. Di Juli 2017 dan Agustus 2018 (sebulan sebelum bencana) menemui Gubernur Sulteng dan berbagai pihak kompeten menyampaikan summary (resume) hasil riset. Belakangan, hasil riset yang rencana dibukukan tersebut belum juga kesampaian sampai dengan kejadian bencana 28 September 2018.
Burhan dari IAGI menguraikan berbagai hal teologis terkait gempa, tsunami & likuifaksi. Menjawab pertanyaan Usman (Sekretaris Lurah), Burhan menjelaskan bahwa kesadaran mitigasi sesungguhnya berorientasi pada upaya mengurangi korban terdampak. Bukan sekedar simulasi yang ciptakan jalur-jalur serta tindakan evakuasi saat terjadi bencana, tapi yang terpenting adalah soal mindset (cara pandang – red) bahwa kita hidup & berkehidupan di atas patahan lempeng aktif sesar Palu-Koro yang sesungguhnya bukanlah Sang Pembunuh. Korban terjadi lebih karena reruntuhan, hempasan gelombang tsunami dll, yang tentu akibat lemahnya mitigasi. Mitigasi adalah serangkaian kegiatan yang direncanakan oleh Pemerintah & masyarakat untuk mencegah terjadinya korban.
Diskusi dihadiri puluhan tokoh masyarakat Petobo, tokoh perempuan dan pemuda, serta beberapa peserta yan mewakili korban tsunami, likuifaksi Balaroa serta korban terdampak gempa lainnya dari Kawatuna (Ahmad Attamimi), Lasoani dan Tanamodindi.
Hasil rapat menyimpulkan soal perlunya segera FORUM membantu Pemerintah Kelurahan untuk mendesain tata ruang/wilayah kawasan Kelurahan Petobo (Baru) di area Jalan Jepang, utara berbatasan dengan Kawatuna, Selatan dengan Loru Sigi, Timur dengan Desa Ngata Baru, dan Barat dengan Jalan Suharto Atas atau batas Tanggul/Irigasi Gumbasa, area mulainya likuifaksi sepanjang lebih 2 KM ke arah barat sampai ke Rumah Sakit Nasanapura di jalanSuharto bawah.
Diskusi juga merekomendasikan beberapa hal terkait tata ruang lokal Petobo, yakni bahwa timbunan material lumpur likuifaksi beserta 1.057 unit bangunan serta dugaan ribuan jenazah warga yang turut tertimbun, agar dijaga oleh Pemerintah dan warga, tidak sekedar sebagai suatu memoriam park (taman kenangan) tapi juga didesign sebagai Museum Likuifaksi Dunia.
Rekomendasi juga disampaikan Yahdi soal perlunya koneksifitas darat yang lebih ringkas, dengan pembangunan Jalan Lingkar Likuifaksi yang mengitari gunung lumpur dengan desain elips, dari arah bawah di Jalan Dewi Sartika naik ke arah Timur hingga di Camp Pengungsian Jalan Jepang (jalan Kebun Sari) area Petobo Atas.
Terhadap berbagai rekomendasi tersebut, pihak IAGI (Ikatan Ahli Geologi Indonesia) bersedia membantu dengan terlebih dahulu lakukan riset mendalam terkait komposisi material tanah dan air permukaan di area tersebut.
REDAKTUR :NILA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here