oleh

Pembunuhan Seorang Gadis Dayak oleh Oknum Pemuda Madura Berbuntut Sanksi Adat Senilai 1,8 M

MM (21 tahun), seorang pemuda suku Madura tega membunuh gadis Dayak, Medelin Sumual (kanan). (F-dok. Ist FB)

SULTENGMEMBANGUN. COM, KALTENG – Kasus pembunuhan sadis yang dilakukan oleh MM (21 tahun), seorang pemuda terhadap Medelin Sumual (20 tahun), gadis Dayak di Kelurahan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur pada Senin (1/2/2021) berbuntut panjang.

Dikutip dari IndoZone. Id menyebutkan kasus tersebut membuat Masyarakat adat Suku Dayak di Kutai Barat sangat murka oleh perbuatan MM. Apalagi, pemuda itu membunuh Medelin karena Medelin menolak berhubungan badan lagi. Mirisnya lagi, perempuan yang akrab disapa Tasya itu dibunuh dengan sebilah pisau sementata diketahui korban saat itu dalam keadaan hamil muda.

Buntutnya, kasus ini ikut berdampak pada bagi semua orang Madura yang berada di Kutai Barat. Mereka terancam diusir dari Kutai Barat jika MM tidak dapat membayar sanksi adat yang dijatuhkan oleh Lembaga Adat Besar Kabupaten Kutai Barat.

Sanksi tersebut berupa denda sebanyak 4.120 antang atau guci, yang nilainya setara Rp1.648.000.000 (Rp1,6 miliar), dengan rincian, satu guci bernilai Rp400 ribu.

BACA JUGA  Kapolda Sulteng : Terjebak, Dua Anggota MIT di Poso Menyerahkan Diri ke Densus 88

Tidak hanya itu, MM juga diharuskan membayar biaya prosesi Parap Mapui hingga Kenyau Kwangkai atau adat kematian Suku Dayak Benuaq mulai tingkat 1 sampai tingkat selanjutnya, yang nilainya mencapai Rp250 juta.

Sehingga, secara keseluruhan, total denda adat yang harus dibayarkan oleh MM adalah Rp1.898.000.000.

Keputusan itu berdasarkan hasil sidang adat di Lamin atau Rumah Adat Dayak Benuaq, Taman Budaya Sendawar pada Kamis, 4 Februari 2021.

“Kami memberi waktu enam bulan terhitung sejak hari ini untuk menyelesaikannya,” kata Manar Dimansyah Gamas, Kepala Lembaga Adat Besar Kutai Barat.
Jika dalam kurun waktu enam bulan MM tidak bisa membayar sanksi adat tersebut, maka seluruh warga asal Madura yang ada di Kutai Barat diminta angkat kaki.

Menyadari panasnya situasi yang membuntuti kasus pembunuhan ini, Kapolres Kutai Barat AKBP Irwan Yuli Prasetyo, langsung meminta masyarakat untuk menahan diri atas kasus pembunuhan ini.

“Kami mohon semua pihak bisa menahan diri. Ini murni kriminal,” katanya, Selasa (2/2/2021).

Diterangkan Irwan, MM membunuh Medelin karena kecewa keinginannya untuk menyetubuhi gadis itu tidak dituruti lagi.

BACA JUGA  Baksos Peduli Covid-19, Polda Sulteng dan Jajaran Bagikan 3.750 Paket Sembako

Mulanya, Medelin hendak meminjam uang Rp2 juta pada MM pada tanggal 17 Januari 2021.

“Namun ada keinginan dari pihak pelaku untuk menyetubuhi korban. Pada saat itu korban menolak, sehingga pelaku merasa kecewa dan sakit hati,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, tepatnya pada tanggal 1 Februari 2021, MM kemudian menawarkan pinjaman Rp600 ribu kepada Medelin, alih-alih Rp2 juta.

Karena sangat membutuhkan uang, Medelin pun tergiur dengan tawaran itu.

Saat akan mengambil uang pinjaman Rp600 ribu itu, Medelin dijemput oleh MM di salah satu sekolah di kawasan Busur, Kelurahan Barong Tongkok. Madelin lantas dibawa ke kontrakan MM.

Sesampainya di rumah MM, ternyata uang Rp600 ribu itu tidak ada. MM sengaja mengelabui Medelin, karena niatnya sebenarnya adalah menyetubuhi gadis berkulit kuning langsat itu. Namun, Medelin kembali menolak ajakan MM dan itu membuat MM marah.

“Karena ditolak, pelaku mengambil pisau. Pelaku sudah berencana melakukan penganiayaan maupun pembunuhan terhadap korban. Itu jadi pemicu. Pada saat pelaku mengambil pisau, pelaku melakukan pengancaman. Di situ terjadi pergulatan,” jelas Irwan.
Medelin sempat merebut pisau yang dipegang oleh MM, dan menusuk kaki MM untuk membuatnya menjauh. Namun, hal itu membuat MM semakin kalap.

BACA JUGA  Ciri Anak Kecanduan `Ngelem`

“Si pelaku menjadi lebih kalap lagi, lalu merenggut pisau dari korban dan langsung ditusukkan ke leher korban,” terang Irwan.
MM dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider Pasal 338 dan Pasal 351 ayat 3.

“Ancaman hukuman maksimal dengan hukuman mati atau seumur hidup,” pungkas Irwan.(***)

Komentar

News Feed