oleh

Pembudidayaan Selada Milik Sapri Jadi Pusat Penelitian

Tampak Sapri didampingi seorang jurnalis sedang memanen Selada yang sudah berumur 30 hari. (F-dok. Nl)

SULTENGMEMBANGUN. COM, SIGI – Menekuni profesi sebagai seorang petani adalah hal yang sangat menyenangkan bagi dirinya. Walaupun kerjanya sedikit agak berat dan melelahkan namun dia punya waktu banyak untuk bersama keluarga.

Apalagi dimasa pandemi covid-19, bertani merupakan merupakan pilihan yang tepat bagi Sapri, petani asal Desa Loru, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi.

Selama kurang lebih 2 tahun ini, Sapri menggeluti bisnisnya sebagai petani Selada. Sebelumnya petani biasa. Dengan memanfaatkan pekarangan dan lahan kosong yang ada di sekitaran rumahnya, Sapri menanam Selada dengan sistim hidroponik.

Sistim Hidroponik adalah metode atau cara menanam tanaman dalam larutan kaya nutrisi berbasis air dengan memanfaatkan wadah berupa pipa paralon dan tanpa menggunakan tanah.

Beragam jenis tanaman bisa dilakukan dengan sistim hidroponik, kata Sapri. Jadi tidak monoton hanya menanam Selada saja. Saat ini, Sapri juga mulai mengembangkan penanaman bawang palu yaitu bawang batu dengan sistim hidroponik.

” Untuk penanaman bawang Palu, itu metodenya juga dilakukan dengan sistim hidroponik. Dan saya baru akan melakukan uji coba semoga saja hasilnya jauh lebih baik,” kata Sapri, saat ditemui di kebunnya sementara memanen Selada, pada Senin (12/4/2021).

BACA JUGA  Rayakan Hari Lalampa Se-Sulteng, Masyarakat Disilahkan Makan Sampai Puas

Sebelumnya, Sapri juga pernah melakukan uji coba penanaman padi dengan sistim hidroponik. Dan hasilnya lumayan bagus . Karena tidak mesti membutuhkan lahan yang luas.

Untuk penanaman Selada, Sapri memiliki banyak sahabat tani yang selama ini didampinginya dalam pembudidayaan Selada. Dia juga mensuplai kebutuhan bibit, dan lainnya untuk para petani. Hingga masa panenpun, semua hasil panen sahabat tani dipasarkan olehnya.

” Jadi untuk pemasaran, kami memang sudah punya pangsa pasar sendiri. Terkadang saya biasa kewalahan untuk memenuhi kebutuhan mitra kami, ” kata Sapri lagi.

Penanaman Selada hanya butuh waktu 35 hari sudah siap panen. Bahkan ada yang tidak sanpai 35 hari, sudah panen. Dan semya tergantung dari tingkat kesuburannya, ” jelas Sapri.

Dalam sekali panen, kata Sapri bisa mencapai puluhan kilo Selada. Bahkan bisa sampai ratusan kilo. Namun untuk memenuhi kebutuhan konsumen, Sapri harus menyediakan minimal 10 kg Selada per hari.

” Pembelinya jelas sehingga kamipun berupaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Bahkan terkadang kami sering kewalahan hingga terkadang harus mendatangkan Selada dari luar daerah,” ungkapnya.

BACA JUGA  Cara Daftar CPNS Palu, Sigi, dan Donggala di 2019: Ini 3 Himbauan Sekdaprov Sulawesi Tengah

Namun demikian, Sapri akan terus berupaya memenuhi kebutuhan konsumen sebanyak 10 kg per hari dengan tetap menjaga kualitas dan meningkatkan hasil panen.

Perlu diketahui pula, Perkebunan Selada yang di kelola oleh Sapri, selalu dijadikan sebagai tempat penelitian oleh berbagai pihak. Tak heran jika Sapri selalu diundang untuk memberikan pebgajaran kepada para petani. Dan itu karena kepiawaiannya dalam membudidayakan Selada serta berbagai jenis tanaman lainnya termasuk padi. (NL)

Komentar

News Feed