oleh

Lestarikan Budaya Daerah, Disdikbud Kota Palu Terapkan Pakai Sampolu/Siga

H. Ansyar Sutiadi, S. Sos. M Si.(F-ist)
PALU, Sultengmembangun. com – Dalam rangka mengimplementasikan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di lingkungan sekolah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Palu telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kepala sekolah mulai tingkat SD, SMP Negeri dan Swasta di lingkungan Disdikbud Kota Palu yang isinya mengharuskan kepada seluruh siswa untuk menggunakan tutup kepala atau sampolu/siga pada setiap Kamis.

Surat edaran Kadisdikbud Kota Palu

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Ansyar Sutiadi dalam edarannya menyebutkan bahwa peraturan penggunaan tutup kepala atau sampolu/siga hanya dipakai setiap Kamis saja. Dan itu disesuaikan dengan kesukuannya.

” Jadi kalau siswanya suku Jawa maka dia harus menggunakan blankon untuk topinya atau tutup kepalanya. Demikian halnya kalau siswanya berasal dari suku Kaili, maka dia wajib menggunakan siga atau sampolu.

Foto : ist

Hal yang sama juga berlaku bagi suku lainnya untuk menggunakan tutup kepala sesuai sukunya masing-masing, ” jelas H. Ansyar Sutiadi, S. Sos, MSi melalui pesan di Whatshapp Group Info Pendidikan, Senin (22/7/2019).
Penggunaan sampolu/siga mulai diberlakukan lagi. (F. dok.ist)

Dijelaskannya bahwa penerapan menggunakan tutup kepala atau sampolu/siga, kata Ansyar, dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan rasa cinta terhadap tanah air. Sekaligus melestarikan budaya daerah . Disisi lain juga mengajarkan kepada siswa untuk bersikap sama tanpa melihat adanya perbedaan suku, ras ataupun agama.

BACA JUGA  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam di IAIN Palu Sangat Dibutuhkan

” Siswa diajarkan untuk bisa saling menghargai, menghilangkan perbedaan karena yang diharapkan adalah bagaimana siswa bisa lebih memaknai bhineka tunggal ika yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu, ” jelasnya.

Selain penerapan penggunaan tutup kepala, sampolu/siga, sebelum memulai pelajaran di kelas, pihak sekolah harus memandu siswanya untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dan sebelum pulang, setiap sekolah juga mewajibkan siswanya untuk menyanyikan salah satu lagu wajib nasional dan salah satu lagu nusantara.

Sementara itu, pada setiap hari juga dihimbau kepada pihak sekolah untuk senantiasa menerapkan sholat berjamaah pada ba’da Dhuhur dan Ba’da Ashar. Sedangkan bagi non muslim bisa menyesuaikan menurut keyakinan masing-masing.

” Semua ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, ” kuncinya.(*)

Penulis: Nila

Komentar

News Feed