oleh

Pasca Tsunami 2018, Wisata Teluk Palu Makin Menggeliat Ditengah Pandemi Covid-19

Sebelum bencana tsunami, Pantai Talise teluk palu, menjadi salah satu objek wisata yang ramai pengunung.(F-ist)

PALU, SM. Com – Gempa bumi dan tsunami yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9/2018) dua tahun lalu, membuat Pantai Talise terkena imbasnya.
Pantai Talise adalah sebuah wisata pantai yang menjajar dan membentang di sepanjang teluk palu tepatnya dibilangan Jalan Rajamoili, Jalan Cut Mutia, dan wilayah Penggaraman.

Sebelum terjadinya gempa bumi dan tsunami di wilayah Palu, Pantai Talise terkenal dengan pantai yang memiliki pasir putih dengan ombaknya yang tenang dan memukau.
Memandang keindahan teluk dari Pantai Talise di sore hari menjadi lokasi yang tepat untuk menghabiskan waktu sore.
Memiliki keindahan sunset, Pantai Talise juga memiliki perbukitan yang memesona dan akan memanjakan mata pengunjung dengan keindahan panoramanya.

Tampak keindahan pantai talise di malam hari. (F-ist)

Untuk mengembalikan kekuatan dari teluk palu terhadap wisata pantai talise kota palu mulai berbenah ditengah merebaknya pandemi covid 19.

Dalam perkembangannya pemerintah kota palu telah melakukan perbaikan Proyek tanggul yang didanai anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2019-2020 ini, merupakan program rehab dan rekon pasaca bencana Palu, Sigi, Donggala dan Parimo (Padagimo) oleh pemerintah pusat melakui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI.

Untuk itu PT. Adhi Karya (Persero), Tbk central Palu perusahaan BUMN tersebut melaksanakan proyek pemecah gelombang atau dikenal sebagai juga sebagai pemecah ombak atau bahasa Inggris breakwater adalah prasanana yang dibangun untuk memecahkan ombak / gelombang, dengan menyerap sebagian energi gelombang. Pemecah gelombang digunakan untuk mengendalikan abrasi yang menggerus garis pantai .

Awak media ini berkesempatan mengunjungi proyek tersebut mengamati bahwa breakwater yang di bangun Tidak hanya berguna untuk lingkungan, ternyata pemecah ombak juga keren saat diabadikan ke dalam lensa kamera. Selasa (19/01/2021) .

Risna salah satu mahasiswa universitas dikota palu saat diwawancara mengatakan “saya bersama kawan kawan sebenarnya, trauma semenjak kejadian bencana 28 September silam. tapi ,dengan adanya penataan teluk palu yang sedemikian baik yah tentu saja kami sangat antusias berkunjung sekedar mengabadikan dalam bentuk foto saja .tentunya,ini bisa jadi salah satu objek wisata baru dikota palu ditengah pandemic yang melanda. Di masa pandemi covid-19, masyarakat palu banyak yang kehilangan pekerjaan karena kurangnya pendapatan. Dampak corona banyak yang dirumahkan, “Ujarnya (19/01/2021) .

Begitu juga Agus Taidung, salah satu warga yang berjualan di bibir pantai Talise menjadi saksi pembangunan tanggul penahan ombak ini menuturkan jika infrastruktur inj sangat membantu .selain berguna bagi keselamatan mereka dari ombak yang sewaktu-waktu datang , juga sebagai sarana mata pencarian utama yang sekarang sudah mulai ramai dikunjungi masyarakat .

BACA JUGA  Sekdaprov Sulteng Lepas Peserta Mudik Gratis

“Alhamdulillah dengan adanya tanggul penahan ombak ini, kami merasa nyaman, kami sudah dapat melakukan aktivitas usaha seperti sedemikian lagi dan antusias masyarakat sudah mulai membaik untuk mengunjungi teluk palu kenyataanya banyak yang datang sambil duduk ditumpukan batu tersebut seraya menikmati keindahan teluk palu sambil menikmati jajanan yang kami jual ” kata Agus Taidung, Kamis (19/01/2021) .

Dengan semakin membaiknya pembangunan tanggul di sepanjang bentangan teluk palu, ini menjadi ladang baru bagi masyarakat untuk mengais rezeki ditengah pandemi covid 19.

Tampak para pedagang kaki lima mulai saling berinovasi membangun usahanya kembali, bangkit dari keterpurukan ekonomi karena pandemi covid 19.

” Kami bersyukur dengan penataan pantai yang semakin membaik, kami bisa membuka usaha baru dengan berjualan lagi di pantai,” kata Nadin, salah satu korban PHK.

Pelaksana proyek penanggulangan pantai teluk Palu Silabeta PT. Adhi Karya (Persero),tbk Adi Sucipto mengakui bahwa pihaknya berupaya untuk konsisten melaksanakan pekerjaannya sehingga selesai sesuai waktu yang ada.

“Kami terus fokus untuk menyelesaikan pekerjaan ini, sehingga masyarakat kota Palu dapat merasakan manfaatnya,”jelas Adi.

UNTUK ITU MARI KITA MENGUPAS SEJARAH DARI TELUK PALU TERKAIT DENGAN PERKEMBANGAN DARI ZAMAN KE ZAMAN

Siapa sangka sejak zaman dulu, Teluk Palu, Sulawesi Tengah, sudah menyimpan panorama yang sangat mempesona.

Bahkan menurut catatan Francois Valentyn tahun 1724, Teluk Palu pada zaman itu sangat indah seperti Negeri Belanda. Tentu, tidak bisa dibayangkan indahnya Teluk Palu saat itu.

Dikutip dari Kumparan.Hal ini kemudian diungkap oleh Sejarawan Universitas Tadulako (Untad), Drs Charles Kapile yang ditemui PaluPoso, Minggu (1/3/2020)

Seiring berjalannya waktu, begitu banyak perubahan yang terjadi di Teluk Palu dan sekitarnya. Menurut Charles, dari aspek sejarah sesuai catatan Francois Valentyn, menjelaskan bahwa penduduk Kota Palu kala itu berjumlah 3.000 jiwa. Pemerintahannya dipimpin oleh seorang raja (pemerintahan kerajaan).

BACA JUGA  Fakultas Ekonomi Bisnis Islam di IAIN Palu Sangat Dibutuhkan

“Kalau dipahami bahwa kerajaan di Palu itu jauh sebelum pemerintahan kolonial, pemerintahannya berbentuk kerajaan sebagai pemimpin dan kerajaan pada saat itu merdeka, artinya kerajaan yang belum ditaklukkan oleh Belanda,” cerita Charles diawal pembahasan tentang sejarah Teluk Palu.

Chasles kemudian mengungkapkan, dari catatan Francois Valentyn yang mengatakan bahwa Teluk Palu merupakan daerah yang sangat indah seperti Negeri Belanda. Wilayah sekitar teluk memiliki permukaan yang datar dan tanah lumpur yang hitam. Daerah ini terletak di antara gunung-gunung yang cukup tinggi dan tumbuh ribuan pohon kelapa.

“Saya tidak bisa bayangkan Kota Palu khususnya Teluk Palu itu indahnya seperti Negeri Belanda, kala itu,” ujar Charles.

Yang perlu dipahami katanya, adalah di Teluk Palu ditumbuhi ribuan pohon kelapa. Ia kemudian mencontohkan, ternyata lambang Provinsi Sulteng disimbolkan dengan pohon kelapa.

Kota Palu secara geografis, pemerintahannya terletak di depan Teluk Palu dan di muara Sungai Palu. Selain pusat pemerintahan di Teluk Palu, juga ada pusat perdagangan dimana ada pelabuhan-pelabuhan kecil yang dibangun sebagai pengumpul hasil bumi di Kota Palu, yang nantinya dikirim ke Donggala.

Oleh karena itu, P.J Veth tahun 1869 menyebutnya sebagai Teluk Onsoewila karena Kota Palu terletak pada teluk yang sama. Artinya, Teluk Palu juga ada kesamaannya di daerah lain atau di negara lain.

Pada zaman itu menurut Charles, perairan Teluk Palu sangat dalam dan di masa kolonial mungkin pernah diukur kedalamannya.

Keindahan panorama Teluk Palu karena dikelilingi gunung-gunung. Teluk Palu membentang dari utara ke selatan sepanjang 30 Km dan lebar 9 Km. Dengan demikian teluk ini dapat memberikan keuntungan bagi perahu atau kapal-kapal kecil untuk mengangkut berbagai produk dari lembah Palu menuju Pelabuhan Donggala.

Kehebatan kolonial kala itu diakui Charles bukan hanya sekadar mengambil sumber daya di Kota Palu tetapi kolonial juga menjaga keasrian Teluk Palu.

Pada zaman kolonial, Palu dibagi menjadi dua wilayah yakni, Palu Timur dan Palu Barat. Secara ekologi wilayah Palu Timur lebih tinggi daratannya. Disamping itu juga di wilayah Palu Timur lebih cenderung sebagai pusat pemerintahan. Sementara Palu Barat adalah pusat perdagangan, dimana pemerintah membangun pasar pertama di Kota Palu yakni Pasar Tua yang saat ini berada di Kecamatan Palu Barat.

BACA JUGA  Komite Aksi HAM Sulteng Bersama Komnas HAM Sepakat Mengawal Penanganan Kasus Reynaldi

Kelebihan dari Teluk Palu adalah Sungai Palu yang saat itu lebarnya diperkirakan mencapai 600 meter.

Menurut P.J Veth, sungai ini bagi penduduk Kota Palu merupakan salah satu sarana komunikasi dan transportasi bagi perahu-perahu kecil mengangkut berbagai komoditi dari daerah pedalaman menuju daerah lainnya di luar Kota Palu seperti, Sulawesi Selatan.

Sungai Palu sangat lebar pada saat itu, saya tidak bisa bayangkan lebarnya seperti apa. Jika dibandingkan dengan sekarang, mungkin tinggal beberapa meter saja. Sementara dari fungsinya sampai sekarang juga masih terlihat bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Palu dapat memanfaatkan hasil di Sungai Palu. Salah satunya penambangan pasir dan kualitas pasir di Sungai Palu masih terjamin hingga sekarang,” ujarnya.

Dengan demikian keadaan ekologi Kota Palu dengan teluknya yang mengandung sumberdaya alam yang sangat potensial, cukup menunjang kebutuhan penduduk pada saat itu.

Dalam perspektif sejarah menurut Staatsblad Van Nederlandsch dijelaskan bahwa salah satu usaha di masa kolonial Belanda pada tahun 1830 yakni, dibangun perusahaan industri garam di Talise bagian Timur untuk memberikan peluang bagi masyarakat sekitar Teluk Palu.

Hingga saat ini pun penggaraman Talise masih ada, meskipun nasib para petani garam terancam pascabencana 28 September.

Selain itu, salah satu potensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan adalah di Teluk Palu terdapat jenis-jenis ikan. Itu artinya kondisi Teluk Palu pada saat itu sangat baik. Mulai dari lautnya, sungainya, kondisi penggaraman di Talise dan lingkungan di Teluk Palu masih sangat baik.

Dari zaman ke zaman Teluk Palu mengalami perubahan. Namun, apa salahnya jika pemerintah bersama masyarakat Kota Palu tetap menjaga Teluk Palu dan tidak meninggalkan kearifan lokal.

Tidak hanya bagimana kita kembali bersama pemerintah daerah yang ada bersama sama kembali mengembalikan status Teluk palu sehingga bisa menjadi daya tarik pariwisata kembali.(*//nina)

Komentar

News Feed