oleh

Mengenang Sejarah Di balik Pemberian Nama Dua Gedung Megah di Jalan Prof. Mr. Mohammad Yamin, SH, Jadi Kebanggaan Masyarakat Sulawesi Tengah

Berdiri megah, GEDUNG JODJOKODI CONVENTION CENTER (JCC). F-ist

PALU,SM.Com – Bangunan adalah struktur buatan manusia yang terdiri atas dinding dan atap yang didirikan secara permanen di suatu tempat. Bangunan juga biasa disebut dengan rumah dan gedung, yaitu segala sarana, prasarana atau infrastruktur dalam kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya. Bangunan memiliki beragam bentuk, ukuran, dan fungsi, serta telah mengalami penyesuaian sepanjang sejarah.

Karena bangunan berkaitan dengan kemajuan peradaban manusia, maka dalam perjalanannya, manusia memerlukan ilmu atau teknik yang berkaitan dengan bangunan, dan menunjang dalam membuat suatu bangunan.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dimasa Pemerintahan Gubernur terpilih Drs.H.Longki Djanggola,M.Si telah membangun beberapa Gedung dengan menggabungkan Nama dari peradaban sejarah raja-raja Palu yang ada .
Pemberian nama Dua gedung yang terletak dibilangan Jalan Prof. Mr. Mohammad Yamid, SH, oleh Gubernur Merupakan perwujudan dari aspek sejarah yang tidak luput dari pemerintahan yang selama ini berlangsung .

Untuk pemberian nama gedung ini sengaja mengambil nama Tetua dari Raja Palu yang ada untuk mengenang sosok sejarah para Raja dari pemerintah Daerah Kota palu .

Menariknya lagi, dua gedung daerah ini dibangun berhadapan dengan gedung yang sama-sama memiliki unsur sejarah para pahlawan dari Raja Raja Palu, demikian kita bahas sejarah dari Nama Dua Gedung yang berdiri megah dengan arsitektur modern dicampur dengan budaya daerah yang ada

BACA JUGA  Menangkal Hoax di Medsos, Polres Donggala Angkat Bicara terkait Biaya Perawatan DPO Reynaldi

Terletak di Pusat Kota, Dua Bangunan Mewah ini menjadi tonggak sejarah untuk mengenang Perjuangan Raja Palu dalam Mempertahankan NKRI dari Kekuasaan Belanda. Dua gedung megah ini yaitu :

1.GEDUNG JODJOKODI CONVENTION CENTER (JCC)

Jodjokodi Convention Center (JCC) gedung serbaguna di Jl. Moh Yamin merupakan pembangunannya yang baru diselesaikan pada tahun 2019 dilaksanakan dan ditandai dengan acara syukuran dan pembacaan doa sebagai tanda bahwa gedung tersebut sudah dapat digunakan.dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Tengah Drs. H .Longki Djanggola,M.Si, Sekdaprov Prof. H.Hidayat Lamakarate,M.Si, para pimpinan OPD, serta pemuka agama dan pelaku sejarah, Minggu 17 Februari 2019 yang lalu.

Singkat cerita, pengelolaan gedung ini akan diserahkan kepada pihak ketiga agar lebih profesional dan bermanfaat. Gedung ini mempunyai dua lantai dengan kapasitas lantai satu menampung 1000 orang pengunjung, sementara dilantai dua bisa menampung 500 orang pengunjung. Penamaan gedung ini mengambil nama seorang tokoh pejuang dan bangsawan yang menjadi Raja Palu Ke-8 Jodjokodi (Yojokodi).

Sejarah dari pemberian nama Gedung tersebut tidak lepas dari aspek sejarah perkembangan Kota palu Provinsi Sulawesi Tengah .dalam peradaban sejarah, Magau Yodjokodi adalah seorang tokoh pejuang dan bangsawan yang menjadi Raja Palu ke-8. Ia biasanya dipanggil dengan sebutan Toma i Sima. Ia menggantikan keponakannya, Radja Maili, Raja Palu ke-7 yang tewas dalam Perang Kayumalue melawan Belanda. Ia memerintah sejak tahun 1888 hingga wafat pada tahun 1906.

BACA JUGA  Hasil Analisis, Laut di Morowali Tercemar Sisa Olahan Penambangan Logam Berat

Dikutip dari welkepedia :Pada tanggal 1 Mei 1888, Yodjokodi dipaksa menandatangani perjanjian pendek (korte verklaring) yang isinya merugikan Kerajaan Palu oleh Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1892, Yodjokodi memindahkan pusat pemerintahan dari Besusu ke daerah Panggovia (sekarang Kelurahan Lere) dan sebagian masuk ke dalam wilayah Tanggabanggo (sekarang Kelurahan Kamonji). Tindakan ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa ia merasa Besusu sudah tidak aman lagi dengan kedatangan pasukan Belanda. Peristiwa ini ditandai dengan pembangunan Souraja (Istana Kerajaan). Souraja dibangun pada tahun 1892, dan dipelopori oleh Amir Pettalolo, menantu Yodjokodi.Yodjokodi menggunakan Souraja sebagai tempat tinggal dan pusat pemerintahan.

2.GEDUNG DHARMA WANITA BIDARAWASIA

Berlokasi di Jalan Moh. Yamin sebuah bangunan dengan arsitektur klasik tampak megah berdiri di lokasi tersebut.

Nuansa daerah serta arsitektur modern , juga terlihat dari gedung tersebut. Bangunan itu juga memiliki dua lantai yang bisa menampung ribuan orang.

Itulah kondisi bangunan yang sudah selesai sekitar akhir Desember 2020 ini yang dibangun oleh Dinas Cipta Karya dan sumber daya air Provinsi Sulawesi Tengah.

BACA JUGA  Empat Pelaku Curanmor dan Penadah di Amankan Polsek Palu Barat

Selain itu Nama dari Gedung Dharma wanita ini adalah Bidarawasia diambil dari nama istri salah satu pejuang Kota Palu ( Yojokodi / Djojokodi) yang Saat ini penggunaan nama dari Yojokodi telah digunakan pada gedung JCC yanga bertempat di depan Gedung Wanita ini .

Adapun sejarah singkat dari Nama Gedung Dharma Wanita Bidarwasia

Dikutip dari Welkepedia:Pada waktu itu Yodjokodi raja ke -8 yang terlahir sebagai anak ketiga dari Raja Palu ke-6, Lamakaraka. Ia memiliki tiga orang istri yang bernama I Ntodei (Ratu Kerajaan Sigi), Bidarawasia (adik ipar Radja Maili), dan Jabatjina. Yojokodi dikaruniai delapan orang anak dari hasil perkawinan dengan Bidarawasia; yaitu Pariusi, Parampasi (Raja Palu ke-9), Idjazah (Raja Palu ke-10), Sima, Pangia, Djamaro, Yodi, dan Mutia. Melalui Jabatjina, Yojokodi memiliki seorang putra bernama Palimuri (di kemudian hari Presiden Sarekat Islam Palu).AD

Komentar

News Feed