oleh

Mengenal Lebih Dekat Corona Virus Disease (COVID-19) Pandemic dan Upaya Pencegahan

Wajah Corona Virus Disease (COVID-19) (F-dok.Ist)

SM.com – Penyakit Virus Corona (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona yang baru-baru ini ditemukan.
Sebagian besar orang yang tertular COVID-19 akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa penanganan khusus.

Dilansir Kompas.com menyebutkan seorang Dosen dan Peneliti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati di Institut Teknologi Bandung (ITB), Husna Nugrahapraja PhD secara sederhana menjelaskan virus sebagai metaorganisme yang punya kemampuan berevolusi dengan mekanisme mutasi. Di mana ada komposisi informatika genetika yang berubah ketika mutasi itu terjadi. Jadi, mutasi ini sesuatu yang alamiah terjadi pada makhluk hidup atau virus pada umumnya, kata Husna.

Apalagi, sudah diketahui bahwa virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 ini mempunyai laju mutasi sekitar 1-2 huruf (basa nukleotida) per bulan. Sementara, virus SARS-CoV-2 mempunyai isi huruf-huruf basa nukleotida sekitar 29.903 hampir 30.000 huruf. Nah, kalau virus SARS-CoV-2 ini bisa bertahan sebulan, maka pada bulan berikutnya ada kemungkinan 1-2 huruf ini berubah.

Untuk diketahui, huruf-huruf basa nukleotida adalah bagian isi dari genom atau kumpulan gen. Adapun pengaruhnya jika hal ini terjadi, artinya mutasi virus tersebut sudah semakin banyak. Kalau mutasi itu semakin banyak, tanpa bisa kita stop dengan vaksin dan pendekatan 3T+3M-3K ini maka bisa berubah menjadi barang lain yang sulit dikendalikan seperti HIV yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Virus Corona Harus Dilawan dengan Pendekatan Rumus Zero 3T+3M+3K

Jika Vaksin tak mempan juga menghadapi Virus Corona (Covid-19), maka Pendekatan 3T+3M-3K menjadi satu-satunya cara yang ampuh untuk melawan penyebaran Covid-19 ini.
Pendekatan 3T+3M-3K adalah rumus zero Covid-19 yang merupakan singkatan dari Testing, Tracing dan Treatment untuk 3T, sementara 3M adalah memakai masker, mencuci tangan rutin, dan menjaga jarak aman minimal 1,5 meter. Sedangkan, yang harus dihindari adalah 3K yaitu kontak erat, kerumunan, dan kamar atau ruang tertutup.

Mengenal Masa Inkubasi Virus Corona dan Efeknya Pada Tubuh

Proses Corona Virus Disease (COVID-19) masuk ke tubuh. (F-ist)
Menurut dr. Arina Heidyana, masa inkubasi adalah waktu dari terpapar virus sampai muncul gejala. Dengan demikian, orang yang terpapar virus corona tidak langsung menunjukkan gejala pada saat itu juga. Kalau virus corona biasanya masa inkubasi 7-14 hari. Jadi, masyarakat harus mengerti betul, gejala itu nggak langsung muncul setelah terpapar,” jelas dr. Arina.
Sementara, menurut WHO gejala yang muncul rata-rata 5-6 hari setelah terinfeksi. Namun, bisa juga sampai 14 hari.

Dalam berbagai penelitian juga ditemukan, jarang gejala muncul segera setelah 2 hari terpapar. Lalu, sangat langka ditemukan gejala setelah 14 hari setelah terinfeksi. Di samping itu, dr. Arina menyebut ada beberapa orang yang nyatanya terinfeksi corona namun tidak menunjukkan gejala sama sekali. Kondisi ini biasa disebut orang tanpa gejala (OTG).
Selama masa inkubasi, orang yang terinfeksi virus corona dapat menularkan ke orang lain.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa virus memiliki masa inkubasi dan apa yang terjadi pada tubuh pada masa tersebut.
Nyatanya, virus corona membutuhkan beberapa waktu untuk dapat menyerang sel inang dan mereplikasi diri di dalam tubuh seseorang. Itulah mengapa, selepas terpapar seseorang tidak akan langsung jatuh sakit.
Akan tetapi, saat seseorang terinfeksi, sel-sel paru-parunya telah menjadi “mesin” penghasil virus. Diperkirakan ribuan hingga jutaan virus dapat berkembang biak di dalam tubuh. Virus itu pun dapat keluar dan menginfeksi orang lain melalui droplet atau aerosol (partikel droplet yang lebih kecil).
Kadang, seseorang tidak menyadari ia telah terinfeksi corona karena tidak menunjukkan gejala sama sekali.
Maka dari itu, penting untuk melakukan karantina diri setelah melakukan perjalanan dari kota atau tempat rawan penyebaran virus, atau kontak dengan pasien positif.
Mengacu kepada definisi dari CDC, kontak erat adalah kondisi orang yang menghabiskan waktu lebih dari 15 menit dalam 1 hari, dan dalam jarak 2 meter dengan penderita COVID-19.
Karantina mandiri sendiri dianjurkan untuk dilakukan selama 14 hari. Sebab, dikhawatirkan dalam 14 hari itu bisa muncul gejala, seperti batuk, demam, dan lain sebagainya.
Selama karantina mandiri, penting untuk menjaga daya tahan tubuh dan menjaga jarak dari orang lain. Selain itu, tes corona sendiri juga penting dilakukan. Dan kalau memang pernah kontak dengan orang positif COVID-19, sebaiknya lakukan tes swab saja untuk memastikan. Dengan begitu, seseorang bisa segera tahu apakah ia terpapar virus corona atau tidak. Jika hasilnya positif terinfeksi, maka bisa segera dirawat ke tempat-tempat rujukan pemerintah untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Cara Penyebaran Virus Corona (COVID-19)

Virus yang menyebabkan COVID-19 terutama ditransmisikan melalui droplet (percikan air liur) yang dihasilkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, atau mengembuskan nafas. Droplet ini terlalu berat dan tidak bisa bertahan di udara, sehingga dengan cepat jatuh dan menempel pada lantai atau permukaan lainnya.
Anda dapat tertular saat menghirup udara yang mengandung virus jika anda berada terlalu dekat dengan orang yang sudah terinfeksi COVID-19. Dan anda juga dapat tertular jika menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mata, hidung, atau mulut anda.

Hingga saat ini, Kasus Covid-19 yang disebabkan oleh infeksi virus corona jenis baru masih terus bertambah. Penyebaran dan penularan virus corona di dunia masih terus terjadi. Angka kasus masih bertambah setiap hari dan bahkan kasus Covid-19 di seluruh dunia sudah lebih dari 2 juta kasus. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk patuh mengikuti anjuran langkah pencegahan dan mengenali gejala terinfeksi virus corona sehingga bisa mendeteksi sejak awal.
Gejala virus corona terus bertambah, dan ditemukan sejumlah gejala baru. Saat awal wabah virus corona merebak, gejala yang dialami penderitanya di antaranya demam, batuk, dan sesak napas. Dan kini, ditemukan sejumlah gejala baru yang penting untuk dikenali.
Gejala-gejala terinfeksi virus corona umumnya muncul pada periode masa inkubasi sekitar 2 hingga 14 hari setelah terpapar. Melansir CNN, berikut 10 gejala kunci yang penting untuk anda kenali sebagai gejala terinfeksi virus corona:

1. Napas Pendek

Dikutip dari Kompas.com dengan judul “10 Gejala Kunci Terinfeksi Virus Corona, Tetap Waspada karena Covid-19 Belum Reda. Sesak napas umumnya muncul sebagai tanda penyakit mencapai tahap serius. Bahkan, bisa muncul tanpa diiringi dengan batuk. Para ahli mengatakan, saat dada Anda terasa seperti diikat atau mulai merasa kesulitan untuk bernapas, ini adalah tanda Anda harus bertindak cepat. “Jika ada sesak napas, segera hubungi penyedia layanan kesehatan Anda, perawatan darurat setempat atau departemen darurat,” kata Presiden Asosiasi Medis Amerika Serikat, Dr. Patrice Harris. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat yang telah menjabarkan tanda-tanda darurat lain saat terinfeksi Covid-19.
Tanda-tanda darurrat itu adalah: Rasa sakit terus-menerus atau tekanan di dada Bibir atau wajah menjadi kebiruan yang menjadi indikasi kurangnya oksigen yang masuk.

BACA JUGA  Sebanyak 248 Bhabinkamtibmas Dimantapkan Mengawal Pilkada 2020

2. Demam
Demam merupakan salah satu tanda kunci dari Covid-19. Para ahli tidak mematok berapa angka suhu demam yang dialami. Alasannya, setiap orang bisa memiliki suhu demam yang berbeda dari patokan suhu tubuh normal pada umumnya. “Ada banyak kesalahpahaman tentang demam. Kita semua naik-turun sedikit pada siang hari sebanyak setengah atau satu derajat. Bagi kebanyakan orang 99,0 derajat Fahrenheit atau 99,5 derajat Fahrenheit bukanlah demam,” ujar Dr. John Williams, Kepala Divisi Penyakit Menular Anak-Anak di Rumah Sakit Anak Pittsburgh University Medical Center. Sementara itu, Dr. William Schaffner, seorang Profesor Kedokteran Pencegahan Penyakit Menular di Vanderbilt University School of Medicine, menyarankan pengecekan suhu sebaiknya dilakukan pada sore dan menjelang petang. “Salah satu gejala demam yang paling umum adalah suhu tubuh Anda naik di sore dan menjelang petang. Itu adalah cara umum virus menghasilkan demam,” jelas Schaffner.

3. Batuk kering
Batuk merupakan gejala umum dari infeksi virus corona. Akan tetapi, batuk yang muncul bukan batuk biasa. “Batuk itu (pada gejala Covid-19) bukan rasa geli di tenggorokanmu. Kamu tidak hanya seperti berdehem,” kata Schaffner. Ia mengatakan, batuk karena gejala Covid-19 sangat menganggu. Batuk kering yang terasa seolah berasal dari sesuatu yang jauh di dalam dada. “Itu berasal dari tulang dada Anda, dan Anda dapat mengatakan bahwa tabung bronkial Anda meradang atau teriritasi,” lanjut dia. Meski batuk kering menjadi tanda, akan tetapi sebuah laporan dari WHO pada Februari 2020, menyebutkan, 33 persen dari 55.924 orang dengan Covid-19

4. Menggigil dan tubuh merasa sakit

Seorang koresonden CNN, Cuomo, yang menderita Covid-19, mengatakan, ia menggigil, tubuhnya terasa sakit, dan demam tinggi saat malam hari. “Aku berhalusinasi, seolah ayahku berbicara denganku. Aku melihat teman-teman kuliahku, orang-orang yang tidak pernah kulihat selamanya, itu aneh,” kata Cuomo.
Meski demikian, beberapa ahli menyebutkan, tidak semua orang selalu mengalami reaksi parah. Beberapa mungkin tidak menggigil dan tidak merasakan sakit apa pun. Penderita lainnya mungkin mengalami kedinginan seperti kondisi flu ringan, serta sendi dan otot pegal-pegal yang membuatnya sulit membedakan apakah itu flu atau Covid-19. Yang perlu diperhatikan, tanda-tanda yang berpotensi sebagai gejala Covid-19 itu muncul dan tak juga hilang setelah seminggu atau lebih. Jika terasa lebih memburuk, Anda patut curiga itu adalah gejala Covid-19, dan sebaiknya segera memeriksakan diri.

5. Tanda-tanda darurat
Pada beberapa pasien, saat kondisi memburuk, mengalami sejumlah kondisi darurat. CDC mengingatkan, jika tubuh tidak mampu untuk bangun atau beranjak dari posisi berbaring, atau kehilangan respons, hal ini bisa jadi tanda serius bahwa Anda membutuhkan perawatan segera. Jika seseorang menunjukkan gejala di atas disertai bibir biru, sulit bernapas, dan nyeri dada, maka harus segera mencari bantuan.

6. Masalah pencernaan
Awalnya, para peneliti tidak menganggap diare atau masalah lambung sebagai tanda Covid-19. Akan tetapi, pendapat tersebut berubah. “Dalam sebuah penelitian di China, di mana mereka melihat beberapa pasien yang paling awal, sekitar 200 pasien, ditemukan gejala pencernaan (gastrointestinal,” kata Kepala Koresponden Medis CNN Dr. Sanjay Gupta. Studi tersebut menunjukkan, saat gejala awal terinfeksi, beberapa penderita mengalami masalah pencernaan seperti diare dan seringkali tak disertai demam. Pasien yang mengalami masalah pencernaan ini kebanyakan terlambat menjalani uji Covid-19 dibandingkan pasien yang mengalami gejala sesak napas. Penelitian itu juga menunjukkan mereka (yang mengalami gejala masalah pencernaan) membutuhkan waktu lebih lama untuk menyingkirkan virus dari tubuhnya.

7. Mata merah
Penelitian di China, Korea Selatan, dan beberapa negara lain menunjukkan, sekitar 1 hingga 3 persen penderita Covid-19 juga mengalami gejala konjungtivitis atau mata merah muda. Ketika kondisi ini terjadi, maka sudah ada potensi untuk menularkan. Konjungtivitis terjadi akibat peradangan karena adanya virus pada lapisan jaringan tipis dan transparan yang menutupi bagian putih mata dan bagian dalam kelopak mata yang disebut konjungtiva. Kondisi mata merah muda patut dicurigai sebagai tanda Covid-19 saat diikuti beberapa tanda lain seperti demam, batuk, atau sesak napas. Waspadai Penularannya Melalui Air Mata.

8. Kehilangan bau dan rasa
Hilangnya kemampuan dalam mencium bau dan rasa bisa menjadi gejala yang tidak biasa pada penderita Covid-19 dengan tingkatan kasus ringan hingga sedang. Sejumlah ahli menyebutkan, anosmia, yang berarti hilangnya penciuman, ditemukan menjadi salah satu gejala yang dialami sejumlah pasien. Hal ini juga membuat berkurangnya napsu makan penderita. Menurut American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, anosmia ditemukan terjadi pada pasien positif Covid-19 yang tak mengalami gejala lainnya. Analisis baru pada kasus ringan di Korea Selatan juga menunjukkan hal yang sama. Sekitar 30 persen pasien kehilangan kemampuan penciuman. Di Jerman, pasien yang dikonfirmasi juga memperlihatkan anosmia.

9. Kelelahan
Orang yang mengalami kelelahan ekstrem bisa menjadi tanda awal virus corona. WHO melaporkan, hampir 40 persen dari 6.000 orang positif Covid-19 mengaku seperti mengalami kelelahan. Rasa lelah ini bahkan dapat berlanjut lama setelah virus hilang. Laporan sejumlah penelitian menyebutkan, orang-orang yang telah pulih dari Covid-19 mengaku masih merasa kelelahan dan kekurangan energi setelah masa pemulihan beberapa minggu.
10. Sakit kepala, sakit tenggorokan, dan hidung tersumbat
Laporan WHO juga menemukan, hampir 14 persen dari hampir 6.000 pasien Covid-19 di China mengalami gejala sakit kepala dan sakit tenggorokan. Sementara, hampir 5 persen mengalami hidung tersumbat. Meskipun bukan tanda umum dan lebih mirip ke flu, akan tetapi gejala Covid-19 pada dasarnya bisa tampak seperti flu termasuk sakit kepala dan masalah pencernaan.
Masing-masing orang memiliki respons yang berbeda terhadap COVID-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus ini akan mengalami gejala ringan hingga sedang, dan akan pulih tanpa perlu dirawat di rumah sakit. Gejala lainnya ruam pada kulit, atau perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki. Dan hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak. Bila ini Anda alami, maka segera cari bantuan medis jika Anda mengalami gejala serius. Selalu hubungi dokter atau fasilitas kesehatan yang ingin Anda tuju sebelum mengunjunginya.
Jika Anda merasa sakit, Anda harus beristirahat, minum banyak air, dan makan makanan bergizi. Gunakan ruangan yang terpisah dari anggota keluarga Anda, dan jika memungkinkan gunakan kamar mandi khusus. Bersihkan dan lakukan disinfeksi pada permukaan benda yang sering disentuh.

BACA JUGA  Polda Sulteng Kerahkan 632 Personil Polri pada Pilkades Serentak di Sigi dan Toli-toli

Semua orang harus menjaga pola hidup sehat di rumah. Jaga pola diet yang sehat, tidur cukup, tetap aktif, dan lakukan kontak sosial dengan orang-orang yang Anda sayangi melalui telepon atau internet. Selama masa sulit seperti sekarang, anak-anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih dari orang dewasa. Usahakan untuk selalu menjaga rutinitas dan jadwal seperti biasanya.

Merasa sedih, stres, atau bingung selama krisis merupakan hal yang normal. Berbicara dengan orang yang Anda percaya, seperti teman dan keluarga, dapat membantu. Jika Anda merasa kewalahan, hubungi tenaga kesehatan atau konselor. Anda juga bisa melakukan Terapi Medis. Dan jika Anda mengalami gejala ringan dan dinyatakan sehat, lakukan isolasi mandiri dan hubungi penyedia layanan kesehatan atau hotline informasi COVID-19 untuk mendapatkan saran. Cari bantuan medis jika Anda merasa demam, batuk, dan kesulitan bernapas.

Dan bagi Orang dengan gejala ringan yang dinyatakan sehat harus melakukan perawatan mandiri di rumah. Rata-rata gejala akan muncul 5–6 hari setelah seseorang pertama kali terinfeksi virus ini, tetapi bisa juga 14 hari setelah terinfeksi. Namun kita tetap saja terus waspada dan menjaga kesehatan, meningkatkan imun tubuh agar virus corona tidak mudah masuk ke tubuh kita. Minimal kita tetap patuh pada anjuran Pemerintah, dengan menjalankan 3M :
1.Menggunakan masker.
2.Mencuci tangan pakai air bersih
3.Menjaga jarak kapan dan dimanapun anda beraktivitas.

Apakah Virus Corona ini sudah ada Obatnya ?
Sampai saat ini, belum ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan virus corona baru (COVID-19). Mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala, dan mereka yang sakit serius harus dibawa ke rumah sakit.

Apakah orang yang terkena virus COVID 19 dapat sembuh sendiri?
Seperti penyakit pernapasan lainnya, COVID-19 dapat menyebabkan gejala ringan termasuk pilek, sakit tenggorokan, batuk, dan demam. Sekitar 80% kasus dapat pulih tanpa perlu perawatan khusus.

Apa nama virus corona baru dan apa saja gejala virus corona baru?
Virus baru ini kemudian dinamakan SARS-CoV2, sementara penyakitnya dinamakan Covid-19. SARS-CoV2 bisa menyebabkan penyakit pernapasan ringan sampai berat. Beberapa penderita bahkan bisa tidak menunjukkan gejala sama sekali. Gejala umum yang sering terjadi pada penderita adalah demam, kelelahan, dan batuk.

Bagaimana cara mengobati penyakit yang diakibatkan virus corona?
Sampai saat ini, belum ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati penyakit yang disebabkan virus corona baru (COVID-19). Mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala, dan mereka yang sakit serius harus dibawa ke rumah sakit.

Bagaimana suhu tubuh orang yang terkena virus COVID 19?
Suhu tubuh menjadi salah satu gejala seseorang diduga tertular Covid-19, selain itu ada batuk flu dan sesak napas yang juga menjadi gejala penyakit tersebut. Seseorang patut diduga tertular Covid-19 jika suhu tubuhnya mencapai 38 derajat celcius ke atas.

Mengapa orang tua rentan terkena virus corona?
Dengan pertambahan usia, tubuh akan mengalami berbagai penurunan akibat proses penuaan, hampir semua fungsi organ dan gerak menurun, diikuti dengan menurunnya imunitas sebagai pelindung tubuh pun tidak bekerja sekuat ketika masih muda.

Bagaimana cara paling efektif melindungi diri dari virus corona?
Cara yang paling efektif untuk melindungi diri dan orang lain dari penularan COVID-19 adalah mencuci tangan secara teratur, tutup mulut saat batuk dengan lipatan siku atau tisu, dan jaga jarak minimal satu meter dari orang yang bersin atau batuk.

Pemerintah Anggarkan Rp405,1 Triliun untuk Mendanai Penanganan Covid-19

Seperti diketahui bahwa Pemerintah mengucurkan anggaran sebesar Rp405,1 triliun sebagai tambahan belanja dan pembiayaan APBN 2020 untuk penanganan COVID-19. Anggaran tersebut selanjutnya dialokasikan kepada sejumlah pos yang diperlukan untuk menangani dampak COVID-19 mulai dari sisi kesehatan hingga dampak ekonomi yang ditimbulkannya.

Belanja Vaksin Sinovac

Pemerintah juga membelanjakan untuk pembelian Vaksin Sinovac. Dimana pada awal Desember 2020, 1,2 juta vaksin Sinovac sudah lebih dulu masuk ke Tanah Air. Secara total, sudah ada 3 juta vaksin Sinovac yang Indonesia terima hingga saat ini.
Berikut fakta-fakta terkait kedatangan 1,8 juta dosis Vaksin Sinovac asal China yang dilansir dari Okezone Jakarta, diawal 2021. Ditinjau langsung oleh Menteri luar Negeri dan Menteri Kesehatan.
Menteri luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dan Menteri Kesehatan (Kemenkes) Budi Gunadi Sadikin meninjau langsung kedatangan vaksin Covid-19 asal Sinovac, China. Kedua pejabat negara dan sejumlah pejabat lainnya keluar dari gedung Bea Cukai di bandara Soekarno-Hatta menuju landasan pesawat menggunakan bus.

Total 3 Juta Dosis Vaksin Sinovac Diterima Indonesia

Tibanya vaksin tahap II ini, merupakan lanjutan dari pengadaan vaksin antara pemerintah Indonesia dengan otoritas China. Dengan kedatangan 1,8 juta vaksin, maka sudah ada 3 juta dosis vaksin Sinovac yang diterima Indonesia.
Pengiriman vaksin Sinovac batch pertama sebesar 1,2 juta dosis pada 6 Desember 2020. Dan pengiriman kedua, pada akhir Desember 2020. Sedangkan pengiriman ketiga pada awal Januari 2021. Dengan demikian, telah ada 3 juta dosis Vaksin Sinovac yang ada di Indonesia,” terang Menlu Retno.
Perjalanan vaksin Covid-19 tersebut dikawal oleh Personel TNI dan Polri dari Bandara Soekarno-Hatta. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Vaksin Sinovac yang telah tiba di Tanah Air sudah didistribusikan secara bertahap ke 34 provinsi di Indonesia.

Pelaksanaan/Tahapan Vaksinasi

Vaksinasi Covid-19 tahap pertama dimulai Januari sampai April 2021. Perihal program vaksinasi, Menkes Budi mengatakan gelombang pertama akan dilaksanakan pada Januari-April 2021. Prioritas pertama vaksinasi menyasar kepada 1,3 juta tenaga kesehatan yang dilakukan secara bertahap. Kemudian sebanyak 17,4 juta orang petugas pelayan publik.
Penerima Vaksin Covid-19 akan menerima SMS Blast

Pemerintah telah merencanakan program vaksinasi Covid-19 tahap pertama. Masyarakat penerima vaksin Covid-19 akan menerima pesan singkat Short Message Service (SMS) Blast dari Kementerian Kesehatan.
Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 terhadap sasaran diawali dengan pengiriman pemberitahuan melalui Short Message Service (SMS) Blast pada tanggal 31 Desember 2020.

Akan ada 100 juta dosis vaksin lagi

Menlu Retno Marsudi menjelaskan bahwa Indonesia telah melakukan penandatanganan peningkatan suplai komitmen letter vaksin dari perusahaan Astra Zeneca dan Novavax bersama manajemen Bio Farma.
Dan Indonesia juga belum lama ini baru menandatangani kesepakatan dengan Novavax, menggunakan platform protein subunit recombinant yang berasal dari Amerika Serikat sebesar 50 juta dosis. Kemudian dari AstraZeneca akan menggunakan platform viral factor berasal dari Inggris, juga sebesar 50 juta dosis. Secara paralel pembicaraan berkesinambungan juga telah dilakukan dengan Pfizer yang berasal dari Amerika Serikat (AS) dan Jerman.

BACA JUGA  Pencemaran Nama Baik, Akun FB Nama Nurul Khasana Resmi Dilaporkan

Pemerintah Tetap Himbau Masyarakat Patuhi 3M

Menanggapi kedatangan 1,8 juta vaksin ini, masyarakat diimbau untuk selalu menjaga protokol kesehatan 3M, yakni menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun.
Karena Meski ada vaksin, protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak) harus tetap dijalankan. Kita butuh bantuan dan partisipasinya dari berbagai pihak agar program ini dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Vaksin Sinovac Tiba di Kota Palu, Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah


Tiba dipalu, kedatangan Vaksin Sinovac ini dikawal oleh sejumlah aparat kepolisian dari Polda Sulteng. Pengawalan dilakukan dengan ketat.

Terlihat vaksin yang diangkut dengan mobil box tersebut dari Bandar Udara Mutiara Sis Al-Jufrie menuju Instalasi Farmasi Dinkes Sulteng.
Vaksin Covid 19 asal China untuk Sulteng, tiba di Bandar Udara Mutiara Sis Aljufrie Kota Palu, Selasa 5 Januari 2021. Sebanyak 11 ribu vaksin Sinovac itu dibawa langsung ke gedung Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) memprioritaskan vaksinasi COVID-19 kepada tenaga kesehatan (nakes), tokoh agama, masyarakat, kepala daerah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang bertugas di wilayah Kota Palu. Sebagaimana berita ini dikutip dari Antara Sulteng.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulteng dr. I Komang Adi Sujendra menerangkan keputusan itu diambil berdasarkan berbagai pertimbangan, salah satunya karena Kota Palu merupakan ibu kota Provinsi Sulteng, pusat pemerintahan dan menjadi daerah dengan tingkat kasus COVID-19 tertinggi di Sulteng.

“Karena jumlah vaksin yang tiba di Palu, Sulawesi Tengah masih terbatas, jadi tidak semua bisa diberi vaksin untuk tahap pertama ini,” jelasnya.
Kata Kadinkes Sulteng, dr.I Komang, Pihaknya harus memilih para nakes, tokoh agama, masyarakat, kepala daerah, OPD dan forkompinda yang sebelumnya telah didata sebagai penerima vaksin buatan Sinovac, China yang didistribusikan oleh PT. Bio Farma. Jadi vaksinasi dilakukan secara bertahap. Tidak sekaligus karena jumlah vaksin yang diberikan terbatas.
Sesuai hasil rapat, rencananya vaksinasi dilakukan pekan depan. Sebanyak 11.000 vaksin COVID-19 bantuan Kementerian Kesehatan yang didistribusikan oleh PT. Bio Farma.


Sebanyak 11.000 dosis vaksin COVID-19 Sinovac tiba di Sulawesi Tengah
dan sudah siap disimpan didalam tempat penyimpanan di Gedung Instalasi Farmasi Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Palu, Selasa (5/1/2021). Tahap pertamaa,
vaksin ini diperuntukkan bagi tenaga kesehatan, lansia dan pegawai pelayanan publik. (F-ist.dok.Antara/Mohamad Hamzah/rwa)

Selain itu, Pemprov Sulteng melalui Dinkes Sulteng telah mendistribusikan sebagian dari 11.000 vaksin Sinovac tersebut ke sejumlah Kabupaten di daerah ini. Proses pendistribusian vaksin covid 19 Sulteng ini juga dikawal ketat pihak kepolisian bersenjata lengkap.
Rencana vaksinasi tahap kedua, pendistribusiannya dari pemerintah pusat ke Provinsi Sulawesi Tengah pada April 2021 mendatang. Dan saat ini, kebutuhan tenaga medis yang sudah terdata ada 22.116 orang.

Penggunaan Vaksin Sinovac Menunggu Izin dari BPOM

Juru Bicara Vaksin Covid 19 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, hingga saat ini Indonesia masih menunggu izin penggunaan darurat vaksin Covid 19 dari BPOM.
Jika izin itu sudah keluar, vaksinasi dapat segera dilaksanakan secara bertahap di 34 provinsi. Secara total, kita membutuhkan waktu 15 bulan, mulai Januari 2021 hingga Maret 2022, untuk menuntaskan program vaksinasi Covid 19 di 34 provinsi dan mencapai total populasi sebesar 181,5 juta orang.
Pelaksanaan vaksinasi selama 15 bulan akan berlangsung dalam 2 periode, yakni :
1. Periode 1 berlangsung dari Januari hingga April 2021 dengan memprioritaskan 1,3 juta tenaga kesehatan dan 17,4 juta petugas publik yang ada di 34 provinsi.
2. Periode kedua berlangsung selama 11 bulan, yaitu dari April 2021 hingga Maret 2022 untuk menjangkau jumlah masyarakat hingga 181,5 juta orang.
Sebelum dan saat proses vaksinasi berlangsung, pemerintah tetap mendorong seluruh masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dengan ketat.
Vaksin sangat penting bukan hanya untuk melindungi tenaga kesehatan dan pelayan publik sebagai individu, namun juga melindungi keluarga mereka, keluarga pasien, serta masyarakat secara luas. Dan sangat diharapkan dengan adanya vaksin, maka tenaga kesehatan, khususnya, dapat segera pulang dan bertemu dengan keluarga mereka.
Karena pentingnya proses vaksinasi, maka pemerintah berupaya sekuat tenaga untuk menghadirkan vaksin yang aman dan efektif sesuai saran dari ITAGI, WHO, dan para ahli, untuk seluruh masyarakat Indonesia secara cuma-cuma.

Bahas Penyaluran Vaksin, Kemendagri RI Gelar Rapat Virtual dengan Seluruh Gubernur Se-Indonesia

Dalam rangka mengecek kesiapan pelaksanaan vaksinasi dan penegakan protokol kesehatan (prokes) covid-19, dalam hal ini Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) mengadakan Vidcon bersama seluruh Gubernur dan para bupati/walikota se Indonesia, Selasa (5/1/2021).

Gubernur pada kesempatan itu diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Dr. Ir. B. Elim Somba, M.Sc, dan kadis kesehatan diwakili oleh dr. Jumriani Yunus.
Dan Narasumber vidcon ialah Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Kepala BNPB selaku Kasatgas Covid-19 Letjen Doni Monardo.
Menkes dalam paparannya mengatakan, penduduk Indonesia yang ditarget menerima suntikan vaksin mencapai 181 juta dengan jumlah kebutuhan vaksin mencapai 426 juta dosis.
Dan untuk tahap pertama, vaksinisasi akan dilakukan kepada sekitar 1,6 juta tenaga kesehatan (nakes) di 34 provinsi.
Untuk itu, Ia mendorong kepala-kepala daerah agar melakukan rekonsiliasi data guna memastikan apakah semua tenaga kesehatannnya telah terdaftar di sistem.
Begitu juga dengan data fasilitas kesehatan di daerah agar ikut dipastikan telah terdaftar dalam aplikasi P-Care BPJS Kesehatan yang digandeng untuk monitoring vaksinasi.
Dan diinformasikan juga bahwa penyuntikan secara simbolis ke presiden akan dilaksanakan Rabu pekan depan (13/1/2021) kemudian disusul oleh para kepala daerah, sehari atau dua hari setelahnya (Kamis atau Jumat). Dan suntikan ini adalah seremonial, simbolis untuk membangkitkan keyakinan publik.
Adapun vaksin yang disuntik lanjut menkes ditujukan bagi penerima kelompok usia dibawah 60 tahun. Olehnya bila kepala daerah berusia di atas 60 dapat digantikan oleh wakilnya atau pejabat terkait lain di daerah.
Di bagian lain, Kasatgas Covid-19 mengingatkan agar narasi vaksinasi jangan sampai membuat masyarakat kendor melakukan protokol kesehatan. Vaksinasi bukan satu-satunya cara lepas (dari Covid-19) karena masih banyak yang harus kita pelajari.
Untuk itu diimbau kepada seluruh kepala daerah agar semaksimal mungkin menjadi contoh ketaatan protokol kesehatan bagi warganya guna memutus virus dari hulunya.
Apalagi dari hasil analisis satgas menunjukkan trend kenaikan pasien dan kematian dokter akibat Covid-19 yang signifikan.
“Apabila disiplin (protokol kesehatan) semakin baik maka kasus aktif dan kematian akan semakin berkurang dan (otomatis) Kita bisa menyelematkan para dokter,” pungkasnya.
Mendagri Tito Karnavian meminta para kepala daerah agar Senin depan (11/1) sudah melaporkan data penerima suntikan simbolis dan waktu pelaksanaannya di provinsi.
Ia juga minta kepala daerah agar memasukan tokoh agama dan tokoh-tokoh publik yang berpengaruh dalam daftar penyuntikan simbolis guna menanamkan kepercayaan masyarakat terhadap program vaksinasi.(**/Nilawati)

Komentar

News Feed