oleh

Masa Pandemi Covid 19, Kaum Ibu Turun Gunung Jualan Bunga

Tampak para ina-ina tengah melayani calon pembeli yang lagi demam bunga. (F-nina)

PALU, SM. Com – Selama pandemi covid 19. Para ibu-ibu rumah tangga semakin disibukkan dengan urusan bunga. Kini bunga menjadi semakin ngetrend tatkala diberlakukannya protokol kesehatan untuk tetap di rumah dan bekerja dari rumah (work from home/WFH).

Laporan : Karenina Dinda Putri

Musim bunga kini menjadi salah satu rutinitas para ibu rumah tangga yang menjalankan aktifitasnya di rumah selama masa pandemi covid 19. Bahkan kesibukan mengurus bunga masih terus berlanjut, hingga saat ini dan itu tampak jelas dari semakin ramainya stand-stand penjualan bunga yang ada di Kota Palu.
Demikian halnya para penjual bungapun terus menjamur. Termasuk diantaranya para ibu rumah tangga yang tinggal diwilayah pegunungan di palu. Merekapunsemakin bergeliat keluar masuk hutan ditemani para suami dan anak-anak, mencari bunga di hutan. Dan bunga yang didapat di hutan, esoknya dijual di pasar tradisionil yang ada di palu.
Ditengah kian merebaknya kasus Covid -19 di Kota Palu, masyarakat pegunungan semakin berjibaku mengais rezekinya di hutan. Mereka tidak peduli dengan bahaya covid yang setiap saat mengintai bila tak waspada dengan menjaga kesehatan.
Mereka justru berjualan bunga sepanjang hari kendati harus turun gunung pagi-pagi buta, demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka.
Sebab dimasa pandemi Covid -19, warga yang tinggal di wilayah pegunungan tepatnya di bagian Salena atas, semakin terpuruk ekonominya. Kaum suami yang diharapkan sebagai penopang ekonomi keluarga, selama covid mewabah banyak yang kehilangan pekejaan yang sebelumnya bekerja sebagai kuli bangunan atau kuli panggul.
Sehingga untuk menunjang kebutuhan hidup mereka, kaum ibu-ibu rumah tangga atau para istri mereka berjibaku dalam mencari bunga kendati keluar masuk hutan.
” Seperti inilah keadaan kami, pergi ke hutan mencari bunga kemudian bunga itu kami jual di pasar. Walaupun hasilnya sedikit, namun lumayanlah untuk beli beras, ” tutur Nurulmiah, salah satu dari sekian banyak ina-ina (sapaan akrab bagi kaum ibu dalam bahasa Kaili).
Sambil menanti pembeli, Nurulmiah bersama ina-ina lainnya tampak bersabar meskipun panasnya sang mentari menyengat kulit namun itu bukan alasan bagi ina-ina ini untuk pulang sebelum berhasil mendapatkan uang dari hasil penjualan bunganya agar bisa dibelikan beras dan makanan lainnya untuk keluarga di rumah.
“Kami pantang untuk pulang kalau belum dapat pembeli. Biar hanya untuk beli beras bagi kami itu sudah lumayan bisa dibelanjakan makanan untuk menjajal perut, ” kata Nurulmiah.
Semangat para ina-ina dalam menata kehidupan memenuhi kebutuhan hidup keluarga, sangat luar biasa.
Bagi mereka penyakit covid atau virus corona itu tidak berlaku bagi mereka, yang setiap harinya berteman dengan panas dan hujan. Bahkan diantara ina-ina ini ada yang mengatakan bahwa virus corona takut bersarang ditubuh orang miskin seperti mereka. Namun demikian, bila turun ke kota sebagian dari mereka tetap patuh pada protokol kesehatan yang mana diwajibkan untuk memakai masker. “Namanya aturan, kita ini sebagai masyarakat kecil harus tetap ikut saja apa kata pemerintah. Kalau disuruh pakai masker itu wajib, kami pun pakai masker tapi maskernya diberikan gratis kepada kami. Karena untuk beli maskerpun kami masih mikir, sebab belanja masker bukan kebutuhan utama bagi kami yang hidup hanya bergantung pada hasil jualan bunga, ” kata Nurulmiah. ***

BACA JUGA  Ketika Pasangan HEBAT Unggul Dalam Debat Publik

Komentar

News Feed