oleh

Maret 2019, Kota Palu Deflasi Hingga 0,45 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Ir. Faizal Anwar, MT didampingi Kabid Distribusi, G. A. Nazer. (F-nila)

PALU, Sultengmembangun. com – Perkembangan indeks harga konsumen (IHK) yang terjadi di Kota Palu, selama bulan Maret 2019, terjadi penurunan harga dibeberapa komoditas utama khususnya bahan makanan. Hal ini menyebabkan sehingga pada kondisi Maret 2019, tercatat Kota Palu mengalami deflasi hingga 0,45 persen.
Sebagaimana dipaparkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng, Ir. Faizal Anwar, MT pada reles bulanan yang dilaksanakan Senin (1/4/2019), di Ruang Vicon Kantor Sementara
BPS Provinsi Sulawesi Tengah.
Pada kondisi Maret 2019, IHK Nasional mengalami inflasi 0,11 persen sementara Kota Palu Deflasi hingga 0,45 persen.
Mewakili Kepala BPS Sulteng, Kabid Distribusi, G. A. Nazer memaparkan bahwa
Deflasi Kota Palu sebesar 0,45 persen disumbangkan oleh andil negatif
kelompok pengeluaran bahan makanan dan kesehatan masing-masing sebesar 0,93 persen dan 0,01 persen. Sementara kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan menyumbangkan
andil sebesar 0,45 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,02 persen, kelompok sandang sebesar 0,02 persen, serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau dengan andil di bawah 0,01 persen.
Penurunan indeks harga terjadi pada kelompok bahan
makanan dan kelompok kesehatan masing-masing sebesar
4,59 persen dan 0,25 persen. Pada saat yang sama kenaikan
indeks harga terjadi pada kelompok transpor, komunikasi
dan jasa keuangan (2,48 persen), sandang (0,41 persen),
perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,07 persen),
serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,01
persen). Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi dan
olahraga selama Maret 2019 relatif stabil.
• Laju inflasi tahun kalender bulan Maret 2019 sebesar -0,53
persen, dan inflasi year on year (Maret 2019 terhadap Maret 2018) tercatat sebesar 5,59 persen.
Selama Maret 2019, Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,45 persen yang dipengaruhi oleh penurunan indeks harga pada kelompok bahan makanan dan kelompok kesehatan masing- masing sebesar 4,59 persen dan 0,25 persen. Selain itu dipengaruhi juga oleh kenaikan indeks harga pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan (2,48 persen), sandang (0,41 persen), perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,07 persen), serta makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,01 persen).
Pada periode yang sama, inflasi year on year Kota Palu mencapai 5,59 persen. Kenaikan
indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 9,19 persen, sedangkan kelompok sandang mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 1,28 persen.
” Jadi ada beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain adanya penurunan harga pada ikan selar (0,26 persen), ikan ekor kuning (0,16 persen), ikan layang (0,14 persen), ikan cakalang (0,09 persen), ikan mujair (0,07 persen), jeruk nipis (0,06 persen), telur ayam ras (0,04 persen), kangkung (0,04 persen), tomat buah (0,04 persen), dan beras (0,04 persen),” ungkap Nazer.
Sementara komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain tarif angkutan udara (0,45 persen), cabai rawit (0,04 persen), ikan teri (0,03 persen), ayam hidup (0,03 persen), keramik (0,02 persen), bawang merah (0,01 persen), nangka muda (0,01 persen), seng (0,01 persen),
sabun detergen (0,01 persen) dan kacang panjang (0,01 persen).
Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 51 kota mengalami inflasi dan 31 kota mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Ambon sebesar 0,86 persen dan terendah di Kota Bekasi dan Tangerang sebesar 0,01 persen.
Sementara deflasi tertinggi terjadi di Kota Tual sebesar 3,03 persen dan terendah di Kota Palembang sebesar 0,01 persen.
“Kota Palu menempati peringkat ke-8 deflasi tertinggi nasional dan urutan ke-4 di kawasan Sulampua,” kata Nazer. (NP)
REDAKTUR : NILA

BACA JUGA  Kolaborasi BPS-BKKBN, Sukseskan Sensus Penduduk dan Pendataan Keluarga

Komentar

News Feed