oleh

Korban Likuifaksi Patah Kaki, Fahri Tetap Semangat Bersekolah Meski Pakai Kursi Roda

PALU – Sebelum bencana tsunami, gempa bumi dan likuifaksi melanda Pasigala (Palu, Sigi, Donggala) 28 September 2018, Fahri Fajar (11 tahun), murid kelas 5 SD Inpres Perumnas Balaroa selalu ceria kala bermain bersama kawan-kawan sebayanya. Namun peristiwa gempa itu membuat Fahri saat ini harus menggunakan kursi roda. Sebelah kakinya harus diamputasi karena tertindis rer ntuhan waktu likuifaksi menggiling Kelurahan Balaroa, tempat tinggalnya.

Selain kehilangan sebelah kakinya, Fahri juga kehilangan ibu, adik dan neneknya dalam peritiwa likuifaksi itu. Sebagai korban, Fahri akhirnya masuk dalam program pencanangan anak yang merupakan salah satu program dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Fahri bersama 11 orang temannya masuk dalam program pencanangan Anak Sulteng Bangkit Lebih Hebat. Dan mereka mendapat perlakuan yang lebih berupa dukungan dari program Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud RI), Muhajir Effendy, yang saat kunjungannya ke Sulteng, pekan lalu, telah memberikan bantuan berupa kursi roda untuk Fahri dan untuk semua teman-teman Fahri yang menjadi korban pada kejadiaan naas itu.

BACA JUGA  Gubernur : Satu Pasien di RSUD Undata Positif Corona

Dengan keterbatasannya, Fahri tetap optimis dan tetap semangat untuk bersekolah walau kata harus mengayuh kursi rodanya ke sekolah. “Saya syukuri masih diberi kesempatan hidup walaupun saya sudah kehilangan kaki, kehilangan keluarga. Dan saya yakin Tuhan punya rencana yang terindah dibalik semua ini,” tutur Fahri dengan wajah tersenyum setelah disalami oleh Mendikbud RI, Muhajir Effendy saat kegiatan di halaman kantor Gubernur Sulteng.Sebagai bagian dari korban terdampak bencana mari kita doakan agar Fahri bisa mewujudkan cita-citanya dan menjadi anak yang kuat, menjadi anak indonesia yang hebat. (Nila)

Komentar

News Feed