Kinerja TPID Sulteng dalam Menekan Inflasi di Bulan Desember 2018, Dinilai Cukup Berhasil

0
188

Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar didampingi Kabid Statistik Distribusi, G.A.Nazer memaparkan sejumlah data strategis BPS terutama tentang data inflasi. Kegiatan ini berlangsung Rabu (2/1/2019). F-Nila


PALU – Tiga bulan pasca bencama, Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulteng berhasil menekan angka inflasi di bulan Desember 2018. Sebagaimana direles Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng pada Rabu (2/1/2019), di Tenda darurat yang ada di belakang kantor BPS Sulteng.
Pada kesempatan itu, Kepala BPS Sulteng, Ir.Faizal Anwar,MT mengatakan bahwa pada Desember 2018 kemarin, inflasi yang terjadi di Kota Palu sebagai Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah hanya sebesar 1,10 persen. Capaian angka inflasi ini dinilai masih stabil dan ini menunjukkan bahwa kinerja TPID Sulteng dalam menjaga stabilisasi harga di Kota Palu termasuk dibeberapa kabupaten lainnya di Sulteng cukup berhasil.
Dari 82 kota pantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi/deflasi secara nasional, sebanyak 80 kota mengalami inflasi dan 2 kota mengalami deflasi.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Kupang sebesar 2,09 persen dan terendah di Kota Banda Aceh sebesar 0,02 persen.
Sementara deflasi hanya terjadi di dua kota yakni Kota Sorong dan Kendari masing-masing sebesar 0,15 persen
dan 0,09 persen. Sementara Kota Palu menempati peringkat ke-11 inflasi tertinggi nasional dan urutan ke-5 di kawasan Sulampua, jelas Faizal Anwar.
Capaian inflasi yang sebesar 1,10 persen disumbang oleh kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok bahan
makanan sebesar 2,67 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa
keuangan 1,76 persen, kesehatan 0,83 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,75 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,26 persen,
serta pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,16 persen.kelompok sandang mengalami penurunan indeks 0,60 persen.
“Satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok sandang. Dan salah satu alasannya karena di Kota Palu dan beberapa kota lainnya dk Sulteng, pasca bencana masyarakat tidak terfokus pada kebutuhan sandang karena yang mereka butuhkan berupa makanan dan obat-obatan. Disisi lain masyarakat Sulteng terutama mereka yang korban terdampak bencana banyak mendapatkan bantuan berupa pakaian layak pakai sehingga dengan begitu aktivitas jual beli terhadap kebutuhan sandang masih sepi permintaan atau terjadi penurunan,”jelasnya.
Laju inflasi tahun kalender bulan Desember 2018 dan inflasi secara year on year (Desember 2018 terhadap Desember 2017)
tercatat sebesar 6,46 persen.
Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain tarif angkutan udara (0,32 persen), ikan ekor kuning (0,22 persen), ikan cakalang (0,10 persen), telur ayam ras (0,07 persen), seng (0,06 persen), besi beton (0,05 persen), ikan mujair (0,04 persen), tomat buah (0,04
persen), ikan teri (0,04 persen) dan daging ayam ras (0,04 persen).
REDAKTUR : NILA

BACA JUGA  Kementrian Perindustrian Salurkan Bantuan Melalui Program Revitalisasi di Pasigala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here