Ketimpangan Kemiskinan di Sulteng Relatif Membaik

0
194

Kepala BPS Sulteng, Faizal Anwar didampingi Kabid Statistik Sosial, Wahyu Yulianto saat memaparkan profil kemiskinan di Sulteng. (F-widya)

PALU, Sultengmembangun. com – Secara umum dalam perkembangannya, Tingkat Kemiskinan di Sulawesi Tengah pada kondisi Maret 2018-Maret 2019 cenderung mengalami trend peningkatan. Baik dari sisi jumlah maupun dari sisi persentase.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah, Ir. Faizal Anwar, MT menyebutkan persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September
2018 sebesar 9,50 persen turun menjadi 9,32 persen pada Maret 2019. Sementara persentase penduduk miskin di daerah pedesaan pada September 2018 sebesar 15,41 persen turun menjadi 15,26
persen pada Maret 2019.

Selama periode September 2018 – Maret 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik sebanyak 0,90 ribu orang (dari 83,84 ribu orang pada September 2018 menjadi 84,74 ribu orang pada Maret 2019), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 4,03 ribu orang (dari 329,65 ribu orang pada September 2018 menjadi 325,62 ribu orang pada Maret 2019).

BACA JUGA  Aksi Sosial Cegah Penularan Covid 19, UPTD LLK UKM Nakertrans Donggala Bagikan 3 Ribu Lembar Masker Gratis

Dimana terlihat jumlah penduduk miskin di Sulawesi Tengah pada Maret 2019 mencapai 410,36 ribu orang. Terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 3,13 ribu orang dibandingkan September 2018. Sementara
dibandingkan Maret 2018 jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 9,85 ribu orang.

Wahyu Yulianto, Kabid Statistik Sosial BPS Sulteng

Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Sulteng, Wahyu Yulianto memaparkan Kenaikan jumlah dan persentase penduduk miskin terutama dipicu oleh kenaikan harga barang
kebutuhan pokok seperti beras, ikan, telur, gula, dan mie instan, serta juga dipicu tingginya konsumsi rokok di kalangan penduduk miskin.

” Persentase penduduk miskin di Sulawesi Tengah dibanding provinsi lain di Sulawesi masih cukup tinggi. Persentase kemiskinan di Sulawesi Tengah menempati urutan
tertinggi kedua setelah Gorontalo. Dari sisi jumlah, penduduk miskin di Sulawesi Tengah juga tergolong besar. Jumlah penduduk miskin sebesar 410,36 ribu orang merupakan tertinggi kedua setelah Sulawesi Selatan yang sebesar 767,80 ribu orang,” jelas Wahyu.
Khusus untuk perubahan garis kemiskinan,
Selama periode September 2018 – Maret 2019, Garis Kemiskinan naik sebesar 4,01 persen, yaitu dari Rp 424.040,- per kapita per bulan pada September 2018 menjadi Rp 441.036,- per kapita per bulan pada Maret 2019.
Sementara pada periode Maret 2018 – Maret 2019, Garis Kemiskinan naik sebesar 6,59 persen, yaitu dari Rp 413.785,- per kapita per bulan pada Maret 2018 menjadi Rp 441.036,- per kapita per bulan pada Maret 2019.

BACA JUGA  Pemberdayaan Keluarga Harus Dimantapkan Sejak Dini

Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM).

Sangat jelas, Peranan komoditi makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non makanan. Besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2019 sebesar 76,35 persen. Sumbangan terbesar pada GK baik di perkotaan maupun di pedesaan pada umumnya sama.

” Beras yang memberi sumbangan sebesar 20,33 persen di perkotaan dan 24,85 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap GK (18,09 persen di perkotaan dan 16,98 persen di perdesaan). Komoditi lainnya adalah
kelompok kue basah (2,79 persen di perkotaan dan 3,23 persen di perdesaan), ikan tongkol/tuna/cakalang (2,76 persen di perkotaan dan 3,16 persen di perdesaan), gula pasir (2,22 persen di perkotaan dan 3,11 persen di perdesaan),” urainya.(widya)

Editor : Nila

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here