Kalteng Tak Kecewa soal Ibu Kota, tapi Ingatkan Pesan Soekarno

0
125

Tugu Dewan Nasional di Palangka Raya membuat pemilihan Presiden Soekarno pernah membuat rencanca pemindahan ibu kota ke Kalimantan Tengan. (F-dokKalteng Pos)

PALANGKARAYA, Sultengmembangun. com – Gubernur Kalteng mengaku tak pernah melobi agar daerahnya dijadikan ibu kota. Kabupaten yang berbatasan dengan Kaltim kini siap jadi daerah penyangga.

Ada kantong empuk di baju putih yang dipakai Soekarno. Kopiah menghiasi kepala presiden pertama Republik Indonesia itu. “Dia juga membawa kotak kecil seperti tas,” Kenang Lewis KDR, mantan anggota DPRD Palangka Raya, Kalteng, yang disadur media ini dari Kalteng Pos .

Sabran Achmad, salah seorang tokoh Kalteng, melengkapi kenangan Lewis tersebut.

“Baju Bung Karno berlengan panjang. Bagian depan memiliki empat kantong di sisi kanan, kiri, atas, dan bawah serta memakai ikat pinggang, ”paparnya.

Lewis dan Sabran adalah saksi mata saat Soekarno menghadiri pemancangan tiang pertama di Pahandut pada 17 Juli 1957. Pahandut yang disetujui kemudian resmi dinamai Palangka Raya, ibu kota Kalteng, provinsi ke-17 Indonesia.

Salah satu pesan Soekarno yang masih diingat Lewis adalah Kalteng akan menjadi calon wilayah ibu kota negara.

“Karena itu, nama Palangka memiliki arti yang sangat sakral; mendatangkan keberuntungan, kemakmuran, dan segala hal baik yang turun dari langit, ”jelas Lewis yang mengkompilasi jadi salah mewakili masyarakat Dayak Kaharingan.

Sabran mengaku tak bisa bicara langsung, Bung Karno menyebut Palangka Raya akan dipakai ibu kota negara baru. Setahu dia, wacana pemindahan ibu kota ke Palangka Raya ini baru muncul setelah kedatangan Soekarno itu. “Mungkin setelah itu dan setelah ada komunikasi intens antara Pak Tjilik Riwut (gubernur Kalteng saat itu, Merah) dan Bung Karno,” terangnya.

BACA JUGA  Banjir Bandang Luluh Lantakkan Desa Lengkeka, Tertutup Lumpur

Bukti sejarah menunjukkan bahwa Soekarno menyusun Palangka Raya sebagai calon ibu kota baru di Tugu Dewan Nasional. Tugu itu terletak di Museum Balanga, Jalan Tjilik Riwut Km 2, Palangka Raya.

Tugu setinggi kurang lebih 5 meter dengan maskot guci ini menjadi awal pembangunan calon ibu kota masa depan oleh Soekarno. Bahkan, Soekarno sudah melakukan berbagai persiapan. Disetujui Dewan Nasional saat itu. Panitia pun dibentuk.

“(Tugu) sebagai penanda tempat ini adalah tempat atau calon ibu kota negara pada masa depan,” ujar Lukas dari Yayasan Gerakan Bersatu Berbuat Manggatang Utus yang pada Kamis lalu (22/8) memimpin napak tilas ke tugu tersebut.

Lukas menjelaskan, mencatat sejarah itu dalam buku Kronik Kalimantan. Ada pula yang menyetujui (almarhum) Prof Roeslan Abdulgani yang merupakan wakil Dewan Nasional. Pernyataan tersebut diabadikan dalam video oleh cucu Tjilik Riwut, Clara Anindita.

Video Roeslan yang mengisahkan Tjilik Riwut yang selalu memperjuangkan kepentingan daerah dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Gagasan-visi brilian tersebut menjadikan Presiden Soekarno sangat menghargainya.

BACA JUGA  Wapres RI Pastikan Penduduk Indonesia Tumbuh Seimbang Menyongsong Indonesia Maju 2045

“Salah satu yang meminta Tjilik Riwut saat rapat Dewan Nasional, meminta Kota Jakarta dengan mudah dimasuki kepentingan, maka ibu kota harus pindah ke luar Jakarta,” tutur Roeslan dalam video itu seperti ditirukan Lukas.

Usul Tjilik Riwut langsung diterima seluruh anggota Dewan Nasional. Bung Karno kemudian memutuskan untuk membentuk panitia guna memperdalam usul tersebut karena dinilainya sangat menarik.

“Ini merupakan tantangan yang sangat sulit dan jauh melihat ke depan. Namun, meminta hal itu tidak dilanjutkan kabinet (Soekarno) untuk memulai diskusi pemindahan ibu kota negara, ”sesal Lukas.

Tapi, kemarin semua jejak sejarah yang diputar Palangka Raya sebagai ibu kota negara baru yang menyiapkan Soekarno itu pupus. Presiden Joko Widodo mengumumkan lokasi ibu kota negara baru berada di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim).

Gubernur Kalteng Sugianto Sabran meminta keputusan presiden tersebut membuat Lantas membuat warga Palangka Raya dan Kalteng putus asa. “Kalteng tidak jadi ibu kota tidak jadi masalah, tetap harus bergerak. Tetaplah jadi diri sendiri, tetaplah bermartabat, ”tutur Sugianto setelah memimpin upacara HUT Ke-85 Pramuka di Sebangau, Palangka Raya, kemarin.

Sugianto menambahkan, selama pengkajian proses pemindahan ibu kota ke Pulau Kalimantan, pihaknya tidak pernah meminta, dikirim melobi, pusat. Namun, Kalteng jelas memiliki sejarah yang diukir Presiden Pertama RI Ir Soekarno saat datang ke Kota Palangka Raya pada 1957.

BACA JUGA  BKKBN Fokus Pada Peningkatan Akses dan Mutu Pelayanan

“Kami memang tidak mengharapkan presiden untuk masuk dalam sejarah. Namun, perlu diingat, mengingat bangsa melupakan sejarahnya, siap-siap bangsa menuju kehancuran, ”katanya.

Selain Kaltim, Kalteng dan Kalsel (Kalimantan Selatan) adalah kandidat lokasi ibu kota negara baru. Juga Sulawesi Barat. Para gubernur provinsi-provinsi yang pernah diundang ke Jakarta dalam persetujuan tersebut. Belakangan presiden mengumumkan bahwa ibu kota negara baru akan berlokasi di Kalimantan dan kemarin dipastikan berada di Kaltim.

Padahal, menurut Wijanarka, penulis buku Sukarno & Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangkaraya, saat menancapkan tiang pertama, Soekarno harus berpesan agar Palangka Raya harus menggunakan perencanaan pembangunan ke depan. Pasalnya, Palangka Raya merupakan kota pertama yang dibangun di Indonesia, bukan kota dengan desain dan warisan dari penjajah. “Jadikan Kota Palangka Raya sebagai modal dan model,” kata alumnus Universitas Diponegoro Semarang yang mengutip ucapan Soekarno.

Meski Kalteng batal menjadi ibu kota, Bupati Barito Timur Ampera AY Mebas tetap menganggap provinsi tersebut bisa mengambil dampak positifnya. Terbatas untuk wilayah yang dia pimpin yang berbatasan dengan Kaltim. Barito Timur bisa menjadi daerah penyangga. “Misalnya dalam pemasaran beras dan pengembangan peternakan serta perikanan,” katanya.(kaltengpos*SM)

)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here