Razia Penjualan Petasan, PKL dengan Petugas Sat Pol PP Nyaris Ricuh

0
46

Sat Pol PP Kota Palu melakukan Razia PKL Petasan di Jalan Wolter Monginsidi, Palu.(F-Nila)

PALU, Sultengmembangun.com – Penertipan sejumlah pedagang kaki lima yang menjajakan aneka jenis petasan kembang api oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Kota Palu, nyaris ricuh. Sebab para petugas Sat Pol PP awalnya sempat bertindak anarkis sehingga memancing kemarahan di pihak pedagang petasan dan kembang api.

Aksi penertiban ini dilakukan di sepanjang jalan Wolter Monginsidi. Dalam aksi penertiban tersebut, hampir semua pedagang petasan dan kembang api menolak dagangannya diangkut oleh petugas Sat Pol PP. Karena mereka mengaku sudah mengantongi izin penjualan. Sementara penertiban ini dilakukan berdasarkan surat edaran walikota yang melarang para pedagang untuk menjual petasan dan kembang api selama menyambut malam tahun baru.

Lamani, salah seorang PKL yang membuka lapak jualannya di pinggiran jalan Wolter Monginsidi, merasa keberatan lapak jualannya hendak digusur oleh petugas Sat Pol PP, namun mendapat perlawanan dari para pedagang.

” Kami berjualan ini sudah mengantongi surat izin penjualan dan kami baru tahu kalau ternyata setelah ini ada surat edaran walikota yang melarang menjual petasan. Tapi masalahnya, kami keberatan dengan sikap dan tindakan para petugas Sat Pol PP yang seenaknya mau mengangkut dagangan kami dan sebagian diantaranya ada yang sudah mengobrak abrik dagangan kami. Seharusnya, masalah ini bisa dijelaskan secara baik-baik. Karena kami semua para pedagang disini, baru tahu kalau ada edaran walikota melarang menjual petasan dan sejenisnya,” tandas Lamani, yang merasa sangat kecewa dengan sikap anarkis petugas Sat Pol PP
Olehnya pihak pedagang merasa keberatan atas tindakan petugas Sat Pol PP Kota Palu yang mencoba bertindak sewenang- wenang tanpa perundingan atau sosialisasi kepada para pedagang.
” Beberapa malam sebelumnya kami sempat didatangi juga oleh petugas Sat Pol PP, mereka bilang boleh berjualan petasan dan kembang api sepanjang tidak menggunakan bahu jalan.Sehingga tidak mengganggu lalu lintas,” kata Lamani.
Tapi malam ini lain lagi ceritanya, tiba-tiba datang langsung main seronok dan mau mengangkut dagangan kami. Bukan begini caranya pemerintah kota kalau mau membunuh rakyat kecil,” kata Lamani yang masih dengan nada emosi karena sempat tarik menarik dagangan dengan oknum anggota Sat Pol PP.
Lamani mencoba mempertahankan dagangannya agar tidak diangkut ke mobil Sat Pol PP. Karena ini merupakan salah satu cara mencari keuntungan untuk menyambung hidup pasca tertimpa bencana. Dan saat inilah momennya mereka bisa mendapat untung. Namun apa yang terjadi, para pedagang ini justru dilarang dan tidak diperbolehkan berjualan petasan menjelang malam tahun baru.
“Boleh berjualan tapi nanti tanggal 3 Januari 2020. Untuk apa lagi, kan percuma karena momennya sudah lewat.jelas petasan yang kami jual sudah tidak akan ada lagi pembelinya,” tegas Lamani.

Lurah Lolu Selatan

Sementara itu, Lurah Lolu Selatan Sahdin mengatakan pihaknya akan menyelesaikan masalah ini dan akan duduk bersama dengan lintas sektoral dan mencarikan solusi untuk para pedagang.
” Untuk masalah ini, saya selaku lurah di Lolu Selatan mencoba untuk membicarakan kembali masalah ini dengan Kasat Pol PP. Karena memang saya ditugaskan untuk mendampingi pedagang atas pelarangan penjualan petasan ini. Adapun kalau tadinya terjadi pemukulan, itu saya tidak tahu. Karena saya baru saja turun ke TKP setelah mendapat informasi bahwa ada terjadi kericuhan antara pedagang petasan dengan petugas Sat Pol PP,” kata Sahdin yang berjanji untuk memfasilitasi pedagang dengan pemilik barang, sesuai permintaan para pedagang untuk mendampingi mereka menemui pemilik barang dalam hal ini toko Aneka Plastik, yang empunya petasan. (Nila)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here