oleh

Guruku Sayang, Guruku Malang

Oleh; Syam Zaini
Ketua PGRI Prov SulTeng

________________________________

Dengan muka sedih dua orang ibu guru ini menuju ruang pemeriksaan unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian didampingi oleh tim LKBH PGRI Prov SulTeng, tepat disaat itupun tanggal 9 Jan 2020 PGRI Prov SulTeng melakukan syukuran atas selesainya Gedung Guru Indonesia (GGI) PGRI Sulawesi Tengah di Palu. Kedua ibu guru ini menjadi tersangka atas laporan dari orang tua anak didik mereka sendiri, yang notabenenya merupakan anak mereka disekolah.

Saat ini mereka akan diperhadapkan pada kondisi yang sangat sulit, disatu sisi mereka berupaya memiliki rasa kepedulian terhadap tugas dan tanggung jawab sebagai guru yang mengajar, mendidik serta menjadi guru penggerak, harus memiliki dedikasi terhadap tugas dan tanggung jawabnya, namun disisi lain konsekwensi dari tugas itu mereka harus diperhadapkan dengan hukum yang berlaku, mereka harus berhadapan dengan Undang-Undang Perlindungan Anak. Ironis….dan menyedihkan, disaat seorang pendidik dituntut untuk mengubah perilaku anak, mengubah mental dan akhlak anak, tapi mereka juga manusia, pastilah memiliki salah dan khilaf juga, tetapi itu tidak menjadikan alasan pembenaran. Tetap menjadi tersangka !

BACA JUGA  Difitnah diMedsos dengan Tudingan Pemerasan, Akun FB Bernama Nurul Khasana Segera Dilaporkan ke Polda Sulteng

Tidak semua satuan pendidikan itu kondusif, tidak semua siswa yang ada disekolah itu berasal dari keluarga yang harmonis. Tentu saja menjadikan peserta didik itupun memiliki karakter yang berbeda. Dengan adanya UU Perlindungan Anak, menjadikan sang anak “kebal hukum”, seakan akan semua yg dilakukan anak harus dilindungi oleh hukum biarpun mereka berbuat kriminal sekalipun ! Tetap salah orang dewasa, tetap salah guru !

Guru diharapkan menjadi agen-agen perubahan, menjadikan peserta didik harapan bangsa, namun disaat mereka tersandung masalah hukum, siapakah yang ikhlas membela mereka ??! Malah ada juga yang membully, mencerca baik oleh rekan sendiri maupun masyarakat luas. Sungguh tak adil, sangat menyedihkan…!!

Guruku sayang, guruku malang…., sedih dan kecewa disaat semua mata tertuju kepada anda berdua, membayangkan jika (seandainya) rekan guru berdua tersebut menjadi pesakitan dipengadilan (semoga tidak terjadi Ya Allah..) yang nantinya akan berhadapan dengan peserta didik yang dididik disekolah dengan harapan menjadi anak yang baik, berguna bagi bangsa dan negara, namun menjadi “musuh” dipengadilan nanti. Inikah wajah pendidikan yang diinginkan dinegeri ini ??! Dengan tidak bermaksud mengabaikan hukum dinegeri ini, namun sudah saatnya UUPA tersebut untuk ditinjau kembali (Judicial Review), harus ada pengecualian makna “kekerasan” yang dimaksud, dibedakan yang terjadi di sekolah dan di masyarakat umum. Anak harus dilindungi dari tindakan kekerasan, itu wajib, harus. Namun apakah anak-anak tersebut juga harus dilindungi jika menjadi pelaku kriminal? Jangan heran, jika pelaku “begal motor” yang kebanyakan pelakunya dikategorikan anak-anak, selalu lepas dari jeratan hukum, aparat penegak hukum tak berdaya menghadapinya, alasan pelakunya anak-anak yang harus dilindungi. Jangan kaget kalau kurir narkoba direkrut oleh para bandar adalah anak-anak, karena jika ditangkap mereka “kebal hukum”.

BACA JUGA  Mengenang Sejarah Di balik Pemberian Nama Dua Gedung Megah di Jalan Prof. Mr. Mohammad Yamin, SH, Jadi Kebanggaan Masyarakat Sulawesi Tengah

Jika para guru disetiap tindakan mereka yang terkait dengan pendisiplinan peserta didik dianggap kekerasan, dan dibawa ke ranah hukum, maka tentunya akan menjadi preseden yang buruk untuk dunia pendidikan. Ini akan menjadi efek buruk bagi satuan pendidikan, guru tak lagi ambil peduli, mereka takut salah langkah, karena apapun kelakuan siswa, mereka pasti dilindungi UUPA, adapun guru siapa dan UU mana yang melindungi.

Inilah salah satu alasan para guru harus berserikat, berorganisasi, harus memiliki kekuatan, wadah guru itu adalah PGRI. LKBH PGRI dan DKGI PGRI merupakan upaya maksimal agar rekan-rekan guru didampingi kasusnya, DKGI berupaya memberikan rekomendasi kepada penyidik dengan melakukan sidang kode etik. Semoga rekan-rekan guru tersebut kasusnya tidak sampai dipengadilan umum.

Guruku sayang guruku malang, tetaplah semangat menghadapi kasus ini, kami para guru selalu ada untukmu, kami PGRI selalu mensupportmu, kami yakin masih jauh lebih banyak orang tua, siswa, rekan guru yang menyayangimu. Anda tidak melakukan pelecehan, anda bukan pencuri, anda bukan sebagai pelaku narkoba ! Tegakkan mukamu saudaraku, tataplah hidup ini dengan penuh harapan dan semangat, jangan putus asa !
_____________________

BACA JUGA  Gubernur Keliling Tinjau Pemungutuan Suara di Sejumlah TPS

Komentar

News Feed