Divonis 1 tahun dan 6 Bulan Penjara, Jein Meiske Palungkun Bakal Ajukan Banding

0
2739

Sidang putusan atas terdakwa Jean Mieske Palungkun yang berlangsung, Rabu (15/5/2019), di Pengadilan Negeri Palu. (F-Nila)

PALU, Sultengmembangun. com – Jein Meiske Palungkun, salah seorang calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tengah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Rabu (15/5) hari ini, akhirnya divonis 1 tahun dan 6 bulan penjara, dari Pengadilan Negeri Palu.

Hukuman ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa, yang menuntut Jein Meiske Palungkun dua tahun dan enam bulan penjara atas kasus penipuan dan penggelapan terhadap korbannya, Helen Saputra, senilai Rp 84, 552 juta.

“Terdakwa terbukti terancam bersalah melanggar pidana Pasal 372 KUHP,” demikian amar putusan dibacakan Ketua Majelis Hakim, I Made Sukanada, di Pengadilan Negeri (PN) Palu, Rabu (15/5/2019).

Usai pembacaan putusan, Ketua Majelis Hakim, I Made Sukanada, memberikan kesempatan selama 7 hari kepada terdakwa dan penesehat hukumnya untuk menyatakan sikap menerima atau mengajukan upaya hukum lain.

Kasus ini berawal saat Helen Saputra bekerjasama dengan Jein Meiske Palungkun pada bulan Juni 2017 dalam bisnis penjualan pembalut kesehatan.

Dari pengakuan Helen, bahwa pihaknya membelikan satu unit mobil Agya sebagai mobil operasional untuk menunjang kerja Jein Meiske Palungkun. Dengan uang muka Rp 36 juta dan Helen mengaku telah membayar angsuran selama tiga bulan, biaya perbulannya Rp 3.282 juta.

“Menurut pengakuan Helen itu mobilnya, sementara mobil itu adalah milik saya. Dan saya yang sebelumnya membayar angsurannya di leasing. Bahkan saya yang atas nama dan yang berurusan langsung dengan pihak leasing. Adapun terkait pembayaran angsuran yang selama tiga bulan yang dibayarkan oleh Helen, itu dibayarkan karena atas permintaan Helen sendiri. Dengan perjanjian bahwa itu pembayaran angsuran dibarter dengan harga kosmetik (handbody racikan) yang selama ini saya bisniskan diambil oleh Helen dengan nilai kurang lebih sebesar nilai angsuran mobil yang saya kredit di leasing, ” ungkap Jean .

Berdasarkan fakta tersebut, maka pada amar putusan yang dibacakan Ketua Majelis Hakim, I Made Sukanada, di Pengadilan Negeri (PN) Palu, memutuskan bahwa mobil Agya yang dimaksud, dikembalikan kepada terdakwa.

Terkait hal itu, bisa disimpulkan bahwa tudingan penggelapan yang selama ini dituduhkan kepada terdakwa, dimentahkan oleh putusan majelis hakim yang menyatakan bahwa mobil tersebut dikembalikan kepada terdakwa. Artinya pihak majelis hakim membenarkan bahwa mobil tersebut adalah milik terdakwa dengan nama dan nomor kontrak mobil agya 1688Eb atas nama terdakwa.

Menindaklanjuti amar putusan majelis hakim, yang memberikan waktu selama tujuh hari kepada terdakwa, kesempatan bagi pihak terdakwa untuk mengajukan banding. Dengan dasar pihak terdakwa mengajukan pembelaan atas dirinya karena terkait kasus penipuan yang ditudingkan atas dirinya. Dimana dalam kasus tersebut, permintaan terdakwa terkait bukti tudingan kasus penipuan, yakni berupa bukti rekening koran atau transaksi pembayaran yang ditransper oleh saksi (Sultan-red) kepada Helen, itu yang diabaikan oleh penyidik.

“Saya menyesalkan tindakan penyidik yang mengabaikan permintaan saya untuk menghadirkan bukti berupa print out rekening koran transferan uang hasil penjualan bisnis pembalut kesehatan yang mana pada saat itu, saya diperintahkan oleh Helen untuk menjemput uang tersebut dari BNS.Setelah itu, saya dimintai untuk mentransfer uang tersebut ke rekening BCA atas nama Helen. Namun karena saya tidak memiliki rekening BCA, maka atas perintah Helen melalui whatshapp ke saya agar uang tersebut saya serahkan kepada Sultan untuk mentransfernya ke rekening Helen. Karena Sultan punya rekening BCA. Dan bukti transferannya Sultan ke Helen dikirimkan via whatshapp ke saya. Namun sayangnya, bukti tersebut yang ada di handphone saya, hilang terbawa tsunami ketika pada waktu itu, saya dihantam tsunami di seputaran penggaraman. Mobil dan tas beserta isinya termasuk handphone saya, semuanya ditelan tsunami sementara di handphone itu ada semua bukti-bukti pengiriman uang saya melalui pesan di watshapp yang mana permintaan Helen uang dari hasil penjualan barang di BNS atas perintah Helen diserahkan ke Sultan agar Sultan yang mentransferkan ke Helen sebanyak 2 kali karena saya tidak punya rek BCA,” ungkap Jean meminta keadilan atas dirinya yang merasa terjebak dalam kasus ini karena bukti yang ada padanya, hilang terbawa tsunami.

Sehingga satu-satunya harapan terdakwa meminta kepada penyidik untuk menghadirkan bukti rekening koran milik Sultan sebagai alat bukti menguatkan saya tidak melakukan penipuan namun permintaan itu tetap diabaikan oleh penyidik.

Tentu saja, untuk membuktikan kebenaran tudingan kasus penipuan tersebut, terdakwa sangat memohon kepada majelis hakim pengadilan tinggi yang akan menyidangkan ini meminta agar barang bukti berupa print out rekening koran atas nama Sultan selaku saksi dalam kasus ini, juga bisa dihadirkan dalam persidangan. Sebagaimana layaknya tudingan kasus penggelapan yang menghadirkan barang bukti berupa mobil, tandas Jean yang sangat mengharapkan kepedulian dari pihak pengadilan dan pihak-pihak terkait demi kebenaran.

” Mohon kiranya dihadirkan bukti rekening koran transver BCA Sultan ke Helen karena ini yang dapat membuktikan saya tidak bersalah dalam kasus ini. Dan mengenai tudingan kesaya yang mana barang dikatakan banyak hilang, Sebenarnya yang harus dipertanyakan itu kepada Sultan karena bukti pengiriman invoice barang selalu ke alamat Sultan, bukan ke saya.
Sedangkan hanya sebagai kurir mengantarkan barang tersebut ke BNS dan saat pengantaran barang, saya selalu ditemani Gunawan atau Sultan.
Waktu stop opname barang, saya sudah mengikuti perintah Helen untuk melakukan stop opname barang di seluruh BNS. Dan hasil tersebut sudah dicatat oleh Gunawan karena saat stop opname barang, Helen memerintahkn kami bertiga untuk mengecek barang. Kemudian hasilnya kami. Laporkan ke Helen. Jelang dua mggu Helen menyuruh saya tarik barang tapt saat itu saya sakit.. Jadi nanti setelah ketiga harinya baru saya menarik barang natesh tersebut dari beberapa BNS. Dan ternyata Helen juga menyuruh Gunawan juga untuk menarik barang tersebut ke semua BNS.
Dan saya hanya menarik barang itu, dibeberapa BNS saja. Saat Helen meminta saya untuk mengembalikan barang (pembalut tersebut), saya katakan kalau nanti saya berikan bila Helen sudah di Palu.
Dan gunawan pun juga mengambil barang tersebut. Bukan saya tidak mau mengembalikan, Kata Jean. Tetapi karena Helen masih di Kalimantan, jadi barang itu saya masih simpan sembari menunggu Helen datang di palu baru saya serahkan barang itu ke Helen, terang Jean.
Namun naasnya, ketika Helen tiba di Palu, malah melaporkan saya ke polisi dengan tudingan penggelapan dan penipuan.
Dan ketika di mediasi oleh pihak Kepolisian di ruang bidkum, saya ditanya oleh salah seorang polisi berpangkat AKP, waktu itu saya tidak perhatikan namanya. Dan oknum anggota polisi tersebut menanyakan ke saya terkait sisa barang yang ada sama saya,. Jadi saya katakan, barang itu akan saya berikan sama Helen karena itu miliknya.
Dan alhasil, saat mediasi Helen menolak karena Helen maunya diserahkan barang dan mobil yang notabene adalah mobil itu milik saya, kata Jean seraya menambahkan bahwa didalam kasus ini tidak ada yang namanya penggelapan ataupun penipuan. Karena Jean sudah berniat baik memberikan barang (pembalut kesehatan-red) yang memang kepunyaan Helen. Namun sayangnya, Helen malah memutar balik fakta dan melaporkan saya dengan tudingan kasus penipuan dan penggelapan.
“Kalau penggelapan, apa yang saya gelapkan sedangkan itu mobil adalah milik saya dan kalau penipuan, dari sisi mananya saya dituduhnya menipu sementara barangnya Helen, saya dengan niat baik bersedia kuserahkan kepada Helen, tandas Jean.

Dan Jean pun pernah meminta kepada penyidik agar dalam kasus ini kenapa hanya dirinya yang disangkakan sementara Sultan dan Gunawan juga ikut berperan dalam bisnis lisan ini. ” Justru yang seharusnya dijadikan tersangka adalah mereka, Sultan dan Gunawan, karena posisi saya hanya disertakan dalam bisnis ini. Sultan lebih besar peranannya dalam bisnis ini karena Sultan menjadi kepercayaannya Helen, ” jelas Jean yang tetap meminta keadilan hukum atas dirinya yang merasa telah dizolimi oleh rekan bisnisnya karena hilangnya sejumlah bukti dalam tragedi tsunami.(NP)
REDAKTUR : NILA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here