oleh

Cegah Stunting, Kepala BKKBN Pusat Arahkan BKKBN Sulteng Galakkan Program Dapur Sehat

Kepala BKKBN Pusat, Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) saat wawancara usai melaunching RS Gema Kencana di Rumkit Palu, Senin 27 September 2021.(F-nila)
SULTENGMEMBANGUN.COM, PALU –
Masih minimnya pemahaman kaum remaja tentang pentingnya program KB,menjadi salah satu penyebab meningginya angka stunting di Sulawesi Tengah.

Berdasarkan Data BPS menunjukkan, angka stunting di Sulawesi Tengah saat ini mencapai 31 persen. Angka ini dinilai cukup tinggi dibanding nasional yang berada pada angka 27 persen.

Kepala BKKBN Pusat, Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) dalam kunjungan kerjanya menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun Kota Palu Ke 43, beliau menyampaikan akan memberikan dukungan sepenuhnya kepad Pemerintah Daerah baik di Provinsi maupun di Kabupaten/Kota. Dukungan yang dimaksud berupa anggaran dan dukungan berupa kebutuhan obat dan peralatan kontrasepsi.

Selain itu, dalam rangka penurunan angka stunting tersebut, dari BKKBN juga telah membuat satu program percontohan yaitu program dapur sehat dalam rangka pemenuhan gizi seimbang yang sudah dihadirkan di setiap kampung KB. Kata Dr.Hasto, ini berlaku bagi daerah-daerah yang masih tinggi angka stuntingnya.

BACA JUGA  Mengenal Corona Virus Lebih Dekat

” Ini yang perlu kita dorong dengan memberikan contoh langsung dapur sehat dalam rangka pemenuhan gizi seimbang untuk mengurangi stunting. Kemudian kita galakkan ASI Exlusif,” jelas Dr Hasto yang begitu optimis agar program dapur sehat ini bisa mencegah stunting sekaligus menurunkan angka stunting khususnya di Sulawesi Tengah ini yang masih cukup tinggi capaiannya.

Maka dari itu, BKKBN memberikan dukungan sepenuhnya kepada Gubernur, Bupati dan Walikota dan BKKBN menyediakan anggaran melalui DAK, BOKB maupun DAK fisik yang langsung kita berikan ke daerah-daerah yang langsung kepada OPD terkait.

Disisi lain, BKKBN juga menggalakkan penyuluhan kepada kalangan remaja sehi gga ada bekal dalam menghadapi masa pernikahan. Dimana selama ini, hal tentang pemahaman seks masih dianggap tabu oleh remaja kita terutama bagi mereka yang tinggal di pelosok desa.

Karena itu, Sebelum nikah perlu dilakukan pendampingan.Kita perlu merubah mindset atau kebiasaan pasangan yang mau menikah dari pra wedding menjadi pra kontrasepsi. Inikan sangat mudah dan tidak butuh biaya besar.

BACA JUGA  Terindikasi Terpapar Virus Corona, Dua Orang Wanita Warga Palu Berstatus PDP di RS Undata

” Ini salah satu strategi kami dalam menekan angka stunting. Bagaimana menyiapkan remaja tentang pemahaman seks pra nikah,” jelas Dr.Hasto.(Nil)

Komentar

News Feed