oleh

Camat Banawa Upayakan Daerahnya Tidak Ada Kasus Pernikahan Anak

Kegiatan FGD Pencegahan Pernikahan Anak di Desa Loli Pesua, Kabupaten Donggala. (F-ist)
DONGGALA, Sultengmembangun.com – Pasca bencana di Sulteng khususnya di Palu, Sigi dan Donggala menyisakan beragam masalah baru. Dan masalah itu banyak dialami oleh kaum perempuan dari kalangan penyintas bencana, terutama mereka yang tinggal di Huntara dan di Shelter-shelter yang ada.

Tindak kekerasan yang menimpa kaum perempuan dari kalangan penyintas ini, menjadi perhatian utama bagi kita semua terutama BKKBN Sulteng yang langsung mengambil peran penting dalam meminimalisir masalah-masalah tersebut.

Sejalan dengan tugas dan fungsinya, BKKBN Sulteng terus menggalakkan program PIK-Remaja dan Program GenRe. Karena kedua program ini diharapkan dapat menekan anga pernikahan anak dibawah usia (pernikahan dini) disamping mengarahkan para remaja dalam pendewasaan usia perkawinan.

Sebagaimana dikatakan oleh Direktur Ketahanan Remaja BKKBN, Eka Sulistia Adiningsih mengharapkan program PIK Remaja dan Program GenRe bisa menjadi wahana bagi para remaja untuk menuangkan bakat dan berbagi dengan sesama remaja tentang program remaja terkait kesehatan reproduksi, pendewasaan usia perkawinan dan sharing tentang bagaimana menyiapkan perkawinan secara matanf agar kelak dapat menjadi masyarakat yang maju dan mandiri serta melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

BACA JUGA  Pemberdayaan Keluarga Harus Dimantapkan Sejak Dini

” Saya harap PIK Remaja dan Program GenRe bisa meminimalisir pernikahan anak khususnya di daerah Pasigala, yang dianggap rawan terhadap tindak kekerasan dan pelecehan seksual. Karena itu, remaja di Pasigala diharapkan lebih cerdas dan lebih mawas diri dalam menyikapi kondisi yang ada, ” kata Eka diacara FGD Pencegahan pernikahan dini di desa Loli Pesua Kabupaten Donggala, Sabtu pekan kemarin.

Masih diacara yang sama, Camat Banawa menyampaikan bahwa angka pernikahan anak di Kecamatan Banawa bisa dikatakan nyaris tidak ada. Pasca bencana pun, di Banawa tidak pernah ada terjadi kasus pernikahan anak.

“Kalaupun itu ada, itu kejadiannya sebelum bencana di Donggala. Dan hanya satu kasus saja,” ungkap Camat Banawa karena pihak pemerintah setempat sangat pro aktip dalam menggiatkan remaja diberbagai kegiatan terutama pada kegiatan olahraga sehingga remaja terfokus dan terarah dalam mengisi waktunya untuk hal-hal yang positip. (NP)

Komentar

News Feed